"Eh ta, temenin yuk ke RS Mulia. " Tia menyodok lenganku dan berbisik ditengah riuhnya penumpang.
"Aduh ya, Sorry aku ada janji sama mama habis ini. Tuh sama Asri aja. " "Aaaaaaa... " Tiba-tiba semua penumpang spontan teriak . Bus mengerem mendadak, ada pohon yang tumbang akibat hujan disertai angin barusan. Penumpang segera turun dan meninjau keadaan diluar bus. Sesaat kemudian mereka masuk bus lagi karena keadaan aman terkendali dan hujan mulai reda, bus melaju cepat .Satu persatu dari kami turun setelah sampai dijalan menuju rumah.
Tapi ketika giliranku turun ,Tia menarik tanganku dan duduk dibangku yang sudah kosong. Sekarang tinggal beberapa penumpang saja jadi longgar untuk duduk bahkan kenek bus tertidur di bangku paling belakang. Aku tahu Tia pasti tidak mendengar penjelasanku tadi kalau aku tidak bisa menemaninya. Tapi sudahlah, toh kalaupun mau turun bus sudah lewat jauh dari rumah.Akhirnya kami berdua turun dari bus dan masuk ke RS Mulia dengan pakaian yang setengah basah .
"Kreett.." Tia membuka pintu kamar rawat Faro. Tidak ada siapa-siapa kecuali Faro yang tertidur dengan selimut khas RS."Ohh,hai ." Faro terbangun dan menyapa kami. "Sudah lama ?"
"Belum . Kita baru aja datang " Lalu Tia mendekat diranjang Faro dan memegang tangannya.
"Ahh kurang ajar si Tia , aku jadi obat nyamuk doang disini." Gumamku lirih dan berpaling dari mereka."Oh ya Faro, kenalin itu Tita yang sering aku ceritain ke kamu itu loh"
"Busett dah, si Tia cerita apaan ya ke Faro .?!" Aku berasa jadi bodoh seketika ."Hai Ta, kok jadi bengong gitu ?" Faro menyapaku dan tersenyum
"Ohh hai , iya ini-apa namanya -emmh kedinginan .iya kedinginan . Gara-gara kehujanan tadi sama Tia. " Aku jadi gugup dadakan melihat senyuman Faro.Sekitar 30 menit kami menjenguk Faro dan kemudian pulang. Semenjak kejadian itu aku jadi berangan-angan ingin punya kekasih . Maklum aku Jones yang kurang beruntung buktinya sampai 4 tahun belum ada tanda-tanda mau dapat jodoh .
Aku , Asri dan Tia adalah tiga serangkai Jones . Tapi Tia sudah kami keluarkan dari grup itu sejak 3 minggu yang lalu Faro diterima Tia sebagai kekasihnya. Dengan begitu bukan berarti kami sudah tidak bersahabat."Ta, buka pintunya dong aku didepan rumah kamu nih ." Kutaruh ponselku dan aku berjalan menuju ruang tamu. Kubuka pintu, Tia kusuruh masuk dan duduk.
" Kenapa malem-malem gini kesini ? Tumben amat. ""Hehee, Tolongin dong Ta.
"pasti deh ada maunya , Kenapa lagi? ""iya , hehe. Bantuin aku putus dari Faro."
"Glekkkk..." Reflek aku menutup pintu dan mendekati Tia ."Serius ?? .....emhh maksudku kamu Serius jadi jones lagi . Kenapa?" Kupertegas pertanyaanku. "Iya Ta, aku serius. Sebenernya aku gak suka sama Faro. Waktu itu chating sama Arif dan ternyata yang balas Faro tapi pakai akunnya Arif. Aku sukanya sama Arif tapi Faro salah paham mungkin dikiranya aku sukanya sama dia padahal bukan. Arif nembak aku seminggu sebelum Faro nembak aku. ". Keadaan hening seketika. Aku mencoba mencerna cerita Tia yang temponya tak beraturan itu."Kemudian Faro menembakku dan Arif menyuruhku menerimanya dengan alasan tidak enak hati dan takut menyinggung perasaan Faro .Secara Faro dan Arif adalah sahabat. Arif tidak ingin bertengkar dengan Faro hanya karena cewek."
"Hmmmmhh.." aku bergumam dan menutup mulut Tia dengan telapak tanganku. "Jadi , Selama ini kamu menduakan Faro? ""Bukan gitu Ta, bahkan aku sempat berfikir menjodohkan kamu sama Faro .Hiihi " Tia nyengir sambil menggodaku
"Kok aku? ""Gak tau , Sepertinya kamu klik loh sama Faro " Tia menggodaku lagi.
"Tapi ya, aku gak mau bantuin kamu. Lagian kamu ada-ada aja . Gak mau ah". "Ahh ya udah , aku pamit aja kalo gitu ta ."Jauh hari sebelum Tia datang kerumah dan minta tolong padaku ternyata dia sudah membuat masalah dengan Faro supaya punya alasan untuk putus. Dan kudengar dari cerita Asri , pagi ini Tia sudah putus dari Faro. Hari kelima setelah putus Faro meneleponku, "Hallo Ta, Tadi Tia pulang sekolah bareng kamu gak? tolong dong sms Tia udah sampai rumah belum ya , aku cemas ."
"Iya ro, coba aku sms nanti ya. " . "Jangan nanti dong , sekarang. Oke ." Lalu Faro menutup telepon . Sebenarnya saat itu aku berharap Faro meneleponku untuk menanyakan keadaanku yang sedikit tumbang karena flu. Tapi kenyataannya Faro masih belum bisa Move On dari Tia.----- "Ta, aku putus sama Arif. Ternyata Faro yang terbaik." Tia datang lagi kerumah dan bercerita . Kebetulan waktu itu Asri juga lagi ada dirumahku . "ya, Apaan sih kamu tuh? Dulu milih Arif daripada Faro, sekarang giliran Faro deket sama Tita kamu malah bilang gini. Labil !" Asri naik pitam dengar cerita Tia yang Plin plan itu. Aku hanya diam. Memang sejak Tia memutuskan Faro , dia sering meneleponku awalnya menanyakan Tia dan semakin kesini kami semakin dekat bukan lagi membahas soal Tia tapi kedekatan kami.
"Ta, kalian belum jadian kan ?" Tia menepuk jidatku membuat lamunanku buyar.
"Be-belum sih. "
"Tapi bentar lagi mereka jadian kok, kan mereka serasi . Ya kan Ta?" Asri memotong pembicaraanku dengan Tia."Tita aja bilang belum kok, pokoknya besok aku harus ketemu Faro."
"Eh, mau ngapain ?""Minta balikan . Ya udah aku pulang ya girls .sampai ketemu disekolah."
"Ya,Tia gak punya perasaan banget sih . " Asri setengah berteriak karena Tia sudah beranjak dan menutup pintu kamarku . "Yang sabar ya Ta, Tia tuh masih kekanakan banget. " . " Yaelah As, kan aku juga bukan siapa-siapanya Faro. Aku Rapopo As." Aku berlagak tegar dan tertawa didepan Asri.Semenjak malam itu Tia jarang kerumahku bahkan hampir tidak pernah. "Kringgg.." ponselku berdering. Faro meneleponku; "Hai Ta, bisa ketemu di Light Cafe gak? Sekarang . "
"Iya ro, bisa ."Kulihat disekeliling parkiran Cafe tidak ada motornya Faro. Tiba tiba pundakku ditepuk seseorang dari belakang ,"Ta, ngapain disini ?Ayo masuk . Aku nunggu dari tadi." Faro terlihat ganteng banget dengan kemeja santai warna hitam, rapih, rambutnya agak diacak sedikit tidak terkesan norak ,tapi wangi dan fresh. "Ayo ta .." Faro menggandeng tanganku dan kami berjalan masuk kedalam cafe.
"Ta, maaf ya kalo aku mulai obrolan malam ini dengan topik yang kurang sesuai."
"Ya Tuhan, ini beneran Faro apa bukan? Ganteng banget padahal kalo pakai seragam sekolah terlihat slengekan. " Aku membungkuk dan melihat kolong meja."Kenapa Ta? "
"emhh gak apa-apa ro. " Aku kembali duduk . Aku masih belum yakin cowok ganteng didepanku ini Faro meski barusan kulihat kakinya beneran menyentuh lantai. Kemudian aku pamit ke Toilet . "Mbk, Mbk lihat kan cowok yang di meja 12 itu? Ganteng gak? Mbk bisa lihat kan?" Tanyaku pada waiters cafe tersebut.
"Maksud mbk cowo berkemeja hitam itu? Iya mbk saya bisa lihat . Kenapa ya?" Jawab waiters cafe itu dengan wajah kebingungan.
"Ya udah mbk , makasih. " Ujarku lalu menghampiri Faro lagi."Eh Ta, lama banget aku kira pulang loh kamu tadi ." Sapanya agak terlihat mencemaskan aku.
"Tadi antri diToilet ro , hihii." Aku meringis tersipu karena sudah berfikir macam macam tentang Faro."Ehm, Ta.. Kemarin Tia menemuiku. Lalu , mengajakku balikan dengannya ."
"Trus? " Aku reflek memotong ucapannya yang belum selesai. Faro tersenyum. "Yaa aku tolak lah Ta karena aku udah pindah ke lain hati. ""Jadi Faro mau cerita ini doang " Aku menggerutu dalam hati. "Bukan cerita ini kok Ta yang paling penting, "
"Loh kok Faro bisa baca pikiranku?" aku kembali bertanya dalam hati.
"Ta, Aku mau menitipkan hatiku pada orang yang tepat. Orang itu adalah kamu. " Faro menatapku penuh harap dan melanjutkan kata katanya ."Apa aku boleh menitipkan hatiku padamu Ta?"
Tik.tok .tik tokkk.Denting jarum Jam klasik dikamarku terdengar sekali ketika malam hening . Aku melayangkan lamunanku pada Faro yang beberapa jam lalu kutemui dan menitipkan hatinya padaku. Aku melihat layar ponselku dan mengetik pesan singkat pada Faro lalu kuhapus lagi. Ini kali ketiga aku melakukannya. Aku sangat bingung. Lalu kutelepon Tia "Ya, apa kabar ? Lama sekali tidak kerumah? Marah ? "
"Hallo Ta, aku baik. Ahh tidak marah padamu Ta, aku cuma butuh waktu instropeksi diri" Suara Tia diseberang sana memang terdengar ceria . "Ya, Maaf ya. Aku terlanjur menyukai Faro. Maafkan aku. "
"Apa Ta ? Aku gak salah dengar? Kamu suka sama Faro ? " Tia bertanya sambil tertawa . "Akhirnya Tuhan, sahabatku yang satu ini kau buka juga pintu hatinya." katanya lagi meledekku. "Ahh Ya, bukannya kamu masih suka sama Faro. Kok sekarang tertawa. ""kalopun aku mengajak Faro balikan hanya untuk pelarian semata Ta, Aku sekarang sudah punya lagi kok."
"Ya Tuhan, Jahat kali kamu ni ya. Oh ya, Faro menembakku tadi. Aku harus bagaimana ?"
"Ya terserah kamulah Ta, tanya sama hati kamu bukan aku. " tiba-tiba sambungan telepon terputus. Kutelepon lagi Tia tapi nomornya sudah tidak aktif .Kucerna lagi kata kata Tia tanya hati. Dan ya, aku mulai mengerti.
--------------Tahun ke 4 setelah aku menerima Faro menitipkan hatinya padaku kemudian kami memutuskan untuk menikah.
Satu tahun setelah pernikahan , kami dianugerahi puteri cantik yang kami beri nama Allinda wicaksono.
Tia dan Asri menemukan jodohnya dipesta Ulang tahun suamiku. Mereka menikah dengan teman suamiku , Gigih dan Seno namanya. Sekarang kami bertiga berpisah karena mereka tinggal diluar kota bersama suami masing masing. Tapi komunikasi kami tetap terjaga begitupun dengan persahabatan kami.