Wednesday, January 13, 2016

Tiga Serangkai

"Gila..! " Asri mengumpat seketika bajunya basah akibat hujan mengguyur sekujur tubuhnya. Sebenarnya bukan hanya Asri , aku dan Tia juga basah . Tapi diantara kami hanya Asri lah yang suka mengumpat begitu. Kami bertiga berteduh di Halte sambil menunggu bus . Tujuan kami setelah mengerjakan tugas kelompok dirumah Aira , kami akan pulang kerumah masing -masing. Tapi tidak dengan Tia, aku dengar kekasihnya dirawat di RS Mulia dan Tia akan kesana .

"segera naik mbk , hujannya semakin deras ." Kenek bus itu menjejal-jejalkan penumpangnya supaya pintu bus bisa ditutup. Saat itu bus berjalan lambat , hujan yang deras membuat pandangan pak sopir terbatas.

"Eh ta, temenin yuk ke RS Mulia. " Tia menyodok lenganku dan berbisik ditengah riuhnya penumpang.

"Aduh ya, Sorry aku ada janji sama mama habis ini. Tuh sama Asri aja. "

"Aaaaaaa... " Tiba-tiba semua penumpang spontan teriak . Bus mengerem mendadak, ada pohon yang tumbang akibat hujan disertai angin barusan. Penumpang segera turun dan meninjau keadaan diluar bus. Sesaat kemudian mereka masuk bus lagi karena keadaan aman terkendali dan hujan mulai reda, bus melaju cepat .

Satu persatu dari kami turun setelah sampai dijalan menuju rumah.

Tapi ketika giliranku turun ,Tia menarik tanganku dan duduk dibangku yang sudah kosong. Sekarang tinggal beberapa penumpang saja jadi longgar untuk duduk bahkan kenek bus tertidur di bangku paling belakang. Aku tahu Tia pasti tidak mendengar penjelasanku tadi kalau aku tidak bisa menemaninya. Tapi sudahlah, toh kalaupun mau turun bus sudah lewat jauh dari rumah.

Akhirnya kami berdua turun dari bus dan masuk ke RS Mulia dengan pakaian yang setengah basah .

"Kreett.." Tia membuka pintu kamar rawat Faro. Tidak ada siapa-siapa kecuali Faro yang tertidur dengan selimut khas RS.

"Ohh,hai ." Faro terbangun dan menyapa kami. "Sudah lama ?"

"Belum . Kita baru aja datang " Lalu Tia mendekat diranjang Faro dan memegang tangannya.

"Ahh kurang ajar si Tia , aku jadi obat nyamuk doang disini." Gumamku lirih dan berpaling dari mereka.

"Oh ya Faro, kenalin itu Tita yang sering aku ceritain ke kamu itu loh"

"Busett dah, si Tia cerita apaan ya ke Faro .?!" Aku berasa jadi bodoh seketika .

"Hai Ta, kok jadi bengong gitu ?" Faro menyapaku dan tersenyum

"Ohh hai , iya ini-apa namanya -emmh kedinginan .iya kedinginan . Gara-gara kehujanan tadi sama Tia. " Aku jadi gugup dadakan melihat senyuman Faro.

Sekitar 30 menit kami menjenguk Faro dan kemudian pulang. Semenjak kejadian itu aku jadi berangan-angan ingin punya kekasih . Maklum aku Jones yang kurang beruntung buktinya sampai 4 tahun belum ada tanda-tanda mau dapat jodoh .

Aku , Asri dan Tia adalah tiga serangkai Jones . Tapi Tia sudah kami keluarkan dari grup itu sejak 3 minggu yang lalu Faro diterima Tia sebagai kekasihnya. Dengan begitu bukan berarti kami sudah tidak bersahabat.

"Ta, buka pintunya dong aku didepan rumah kamu nih ." Kutaruh ponselku dan aku berjalan menuju ruang tamu. Kubuka pintu, Tia kusuruh masuk dan duduk.

" Kenapa malem-malem gini kesini ? Tumben amat. "

"Hehee, Tolongin dong Ta.

"pasti deh ada maunya , Kenapa lagi? "

"iya , hehe. Bantuin aku putus dari Faro."

"Glekkkk..." Reflek aku menutup pintu dan mendekati Tia ."Serius ?? .....emhh maksudku kamu Serius jadi jones lagi . Kenapa?" Kupertegas pertanyaanku.

"Iya Ta, aku serius. Sebenernya aku gak suka sama Faro. Waktu itu chating sama Arif dan ternyata yang balas Faro tapi pakai akunnya Arif. Aku sukanya sama Arif tapi Faro salah paham mungkin dikiranya aku sukanya sama dia padahal bukan. Arif nembak aku seminggu sebelum Faro nembak aku. ". Keadaan hening seketika. Aku mencoba mencerna cerita Tia yang temponya tak beraturan itu.

"Kemudian Faro menembakku dan Arif menyuruhku menerimanya dengan alasan tidak enak hati dan takut menyinggung perasaan Faro .Secara Faro dan Arif adalah sahabat. Arif tidak ingin bertengkar dengan Faro hanya karena cewek."

"Hmmmmhh.." aku bergumam dan menutup mulut Tia dengan telapak tanganku. "Jadi , Selama ini kamu menduakan Faro? "

"Bukan gitu Ta, bahkan aku sempat berfikir menjodohkan kamu sama Faro .Hiihi " Tia nyengir sambil menggodaku

"Kok aku? "

"Gak tau , Sepertinya kamu klik loh sama Faro " Tia menggodaku lagi.

"Tapi ya, aku gak mau bantuin kamu. Lagian kamu ada-ada aja . Gak mau ah". "Ahh ya udah , aku pamit aja kalo gitu ta ."

Jauh hari sebelum Tia datang kerumah dan minta tolong padaku ternyata dia sudah membuat masalah dengan Faro supaya punya alasan untuk putus. Dan kudengar dari cerita Asri , pagi ini Tia sudah putus dari Faro. Hari kelima setelah putus Faro meneleponku, "Hallo Ta, Tadi Tia pulang sekolah bareng kamu gak? tolong dong sms Tia udah sampai rumah belum ya , aku cemas ."

"Iya ro, coba aku sms nanti ya. " . "Jangan nanti dong , sekarang. Oke ." Lalu Faro menutup telepon . Sebenarnya saat itu aku berharap Faro meneleponku untuk menanyakan keadaanku yang sedikit tumbang karena flu. Tapi kenyataannya Faro masih belum bisa Move On dari Tia.

----- "Ta, aku putus sama Arif. Ternyata Faro yang terbaik." Tia datang lagi kerumah dan bercerita . Kebetulan waktu itu Asri juga lagi ada dirumahku . "ya, Apaan sih kamu tuh? Dulu milih Arif daripada Faro, sekarang giliran Faro deket sama Tita kamu malah bilang gini. Labil !" Asri naik pitam dengar cerita Tia yang Plin plan itu. Aku hanya diam. Memang sejak Tia memutuskan Faro , dia sering meneleponku awalnya menanyakan Tia dan semakin kesini kami semakin dekat bukan lagi membahas soal Tia tapi kedekatan kami.

"Ta, kalian belum jadian kan ?" Tia menepuk jidatku membuat lamunanku buyar.

"Be-belum sih. "

"Tapi bentar lagi mereka jadian kok, kan mereka serasi . Ya kan Ta?" Asri memotong pembicaraanku dengan Tia.

"Tita aja bilang belum kok, pokoknya besok aku harus ketemu Faro."

"Eh, mau ngapain ?"

"Minta balikan . Ya udah aku pulang ya girls .sampai ketemu disekolah."

"Ya,Tia gak punya perasaan banget sih . " Asri setengah berteriak karena Tia sudah beranjak dan menutup pintu kamarku . "Yang sabar ya Ta, Tia tuh masih kekanakan banget. " . " Yaelah As, kan aku juga bukan siapa-siapanya Faro. Aku Rapopo As." Aku berlagak tegar dan tertawa didepan Asri.

Semenjak malam itu Tia jarang kerumahku bahkan hampir tidak pernah. "Kringgg.." ponselku berdering. Faro meneleponku; "Hai Ta, bisa ketemu di Light Cafe gak? Sekarang . "

"Iya ro, bisa ."

Kulihat disekeliling parkiran Cafe tidak ada motornya Faro. Tiba tiba pundakku ditepuk seseorang dari belakang ,"Ta, ngapain disini ?Ayo masuk . Aku nunggu dari tadi." Faro terlihat ganteng banget dengan kemeja santai warna hitam, rapih, rambutnya agak diacak sedikit tidak terkesan norak ,tapi wangi dan fresh. "Ayo ta .." Faro menggandeng tanganku dan kami berjalan masuk kedalam cafe.

"Ta, maaf ya kalo aku mulai obrolan malam ini dengan topik yang kurang sesuai."

"Ya Tuhan, ini beneran Faro apa bukan? Ganteng banget padahal kalo pakai seragam sekolah terlihat slengekan. " Aku membungkuk dan melihat kolong meja.

"Kenapa Ta? "

"emhh gak apa-apa ro. " Aku kembali duduk . Aku masih belum yakin cowok ganteng didepanku ini Faro meski barusan kulihat kakinya beneran menyentuh lantai. Kemudian aku pamit ke Toilet . "Mbk, Mbk lihat kan cowok yang di meja 12 itu? Ganteng gak? Mbk bisa lihat kan?" Tanyaku pada waiters cafe tersebut.

"Maksud mbk cowo berkemeja hitam itu? Iya mbk saya bisa lihat . Kenapa ya?" Jawab waiters cafe itu dengan wajah kebingungan.

"Ya udah mbk , makasih. " Ujarku lalu menghampiri Faro lagi.

"Eh Ta, lama banget aku kira pulang loh kamu tadi ." Sapanya agak terlihat mencemaskan aku.

"Tadi antri diToilet ro , hihii." Aku meringis tersipu karena sudah berfikir macam macam tentang Faro.

"Ehm, Ta.. Kemarin Tia menemuiku. Lalu , mengajakku balikan dengannya ."

"Trus? " Aku reflek memotong ucapannya yang belum selesai. Faro tersenyum. "Yaa aku tolak lah Ta karena aku udah pindah ke lain hati. "

"Jadi Faro mau cerita ini doang " Aku menggerutu dalam hati. "Bukan cerita ini kok Ta yang paling penting, "

"Loh kok Faro bisa baca pikiranku?" aku kembali bertanya dalam hati.

"Ta, Aku mau menitipkan hatiku pada orang yang tepat. Orang itu adalah kamu. " Faro menatapku penuh harap dan melanjutkan kata katanya ."Apa aku boleh menitipkan hatiku padamu Ta?"

Tik.tok .tik tokkk.

Denting jarum Jam klasik dikamarku terdengar sekali ketika malam hening . Aku melayangkan lamunanku pada Faro yang beberapa jam lalu kutemui dan menitipkan hatinya padaku. Aku melihat layar ponselku dan mengetik pesan singkat pada Faro lalu kuhapus lagi. Ini kali ketiga aku melakukannya. Aku sangat bingung. Lalu kutelepon Tia "Ya, apa kabar ? Lama sekali tidak kerumah? Marah ? "

"Hallo Ta, aku baik. Ahh tidak marah padamu Ta, aku cuma butuh waktu instropeksi diri" Suara Tia diseberang sana memang terdengar ceria . "Ya, Maaf ya. Aku terlanjur menyukai Faro. Maafkan aku. "

"Apa Ta ? Aku gak salah dengar? Kamu suka sama Faro ? " Tia bertanya sambil tertawa . "Akhirnya Tuhan, sahabatku yang satu ini kau buka juga pintu hatinya." katanya lagi meledekku. "Ahh Ya, bukannya kamu masih suka sama Faro. Kok sekarang tertawa. "

"kalopun aku mengajak Faro balikan hanya untuk pelarian semata Ta, Aku sekarang sudah punya lagi kok."

"Ya Tuhan, Jahat kali kamu ni ya. Oh ya, Faro menembakku tadi. Aku harus bagaimana ?"

"Ya terserah kamulah Ta, tanya sama hati kamu bukan aku. " tiba-tiba sambungan telepon terputus. Kutelepon lagi Tia tapi nomornya sudah tidak aktif .Kucerna lagi kata kata Tia tanya hati. Dan ya, aku mulai mengerti.

--------------

Tahun ke 4 setelah aku menerima Faro menitipkan hatinya padaku kemudian kami memutuskan untuk menikah.
Satu tahun setelah pernikahan , kami dianugerahi puteri cantik yang kami beri nama Allinda wicaksono.
Tia dan Asri menemukan jodohnya dipesta Ulang tahun suamiku. Mereka menikah dengan teman suamiku , Gigih dan Seno namanya. Sekarang kami bertiga berpisah karena mereka tinggal diluar kota bersama suami masing masing. Tapi komunikasi kami tetap terjaga begitupun dengan persahabatan kami.

SENJA..... Part 1

Tepat 08.30 wib air hujan mengguyur pacitan kota . Terlihat genangan air disepanjang jalan berlubang akibat muatan truk yang berlebih. Senja bergegas mengenakan jas hujan. Mengayuh sepeda menuju kampus, menepi diruko sesekali petir menggelegar. Dikayuhnya lagi si momo kawan setianya setiap ke kampus.

Entah sejak kapan hujan reda tapi Senja masih mengenakan jas hujannya sampai kampus. Bias pelangi indah disudut kota membuat Senja termangu. Kemudian bebenah memasuki ruang kelas.

"Segera angkat teleponku ,penting! " pesan singkat dari Dani. Hanya dibaca sekilas lalu Senja duduk .

" Senja, aku ingin bicara sebentar saja" pesan berikutnya diterima ketika Dosen sudah dikelas. Senja memasukan Handphone kedalam tas, memperhatikan mata kuliah yang disampaikan dosennya.

Usai mata kuliah hari ini, Senja memfokuskan pandangannya kearah perpustakaan . Gadis kutu buku ini kemudian masuk kedalam perpus.

"kutunggu dari tadi baru nyampek sekarang kau ni.." Sapa penjaga perpus yang terkenal dengan logat Animasi kartun upin ipin itu.

"Ah bapak bisa aja, kan tadi saya ada kelas pak." Jawab Senja sambil memilih buku yang ingin dibaca.

"Temui aku di kantin , sekarang." itu pesan singkat Dani yang kesekian yang tidak dibalas Senja.

"Baiklah, aku segera kesana." akhirnya Senja berkemas menemui Dani .

"Bruukkk !! "

"Maaf, aku buru-buru." Senja menabrak seseorang di koridor perpus.

"Bodoh.." ucap seseorang itu sambil nyengir meledek Senja. Karena buru-buru, Senja tidak meladeni laki-laki tinggi dengan earphone menggantung dilehernya.

Senja tersenyum dan meninggalkan Dani sendiri dikantin. Keputusannya berpisah dengan Dani sudah bulat semenjak orang ketiga hadir ditengah hubungan mereka dan Dani mengkhianati kesetiaan Senja

Gemercik hujan seakan menemani kesendirian Senja. Kakinya yang jenjang terus mengayuh Momo hingga pertigaan jalan menuju rumahnya. "istri macam apa kamu ini, suami pulang tidak disambut malah ngomel-ngomel .." Tidak asing lagi ketika Senja mengetuk pintu dan mengucap salam terdengar Ayah dan ibunya sedang adu mulut. Pikirannya yang menggelayut tentang Dani dan kini orangtuanya melayangkan gugatan cerai. "ayah dan ibu tidak usah susah berebut senja akan tinggal dengan ayah atau ibu. Mulai besok Senja akan pergi dari rumah ini. " Katanya dengan isak tangis didepan kedua orangtuanya.

"Senja, Sama saja kamu ini dengan ibumu, aneh. Kamu tinggal saja dengan ayah dirumah ini biar ibumu angkat kaki dari rumah ini ."

Pagi buta Senja berkemas tanpa sepengetahuan ayah dan ibunya. Membuka lalu menutup lirih pintu gerbang. Menuntun momo hingga jalan utama yang agak jauh dari rumahnya.

Terik matahari pagi mengiringi perjalanan Senja. Kemudian memaksa Senja istirahat sejenak .

"Mau kemana pagi-pagi begini ?" "Laki-laki itu kan yang menabrakku dikampus?" pikir Senja. Laki-laki itu menyodorinya soft drink. Sepertinya dia habis Jogging , terlihat dari pakaian dan handuk yang menggantung dilehernya.

"eh, kamu kan yang mengatai aku bodoh .." "kenapa kamu baik padaku , memberiku minuman segala. Jangan-jangan mau meracuniku. " Cetus Senja pada laki laki bertubuh tinggi semampai dan berkulit putih itu.

"Eh bodoh, dikasih minuman malah menuduh macam-macam. Aku cuma kasihan lihat kamu duduk ditrotoar bawa ransel ngapain juga coba?"

"Aku minggat dari rumah . Kesel juga punya ortu kerjaannya berantem trus " ... Senja diam sejenak, "Kenapa juga aku cerita sama cowok gak jelas ini. " pikirnya.

"Trus dengan kamu kabur ortu kamu gak bakal berantem lagi gitu? bodoh !"

Lagi -lagi dia menyebut Senja bodoh. Senja tidak menjawab hanya meneguk sebotol soft drink kemudian beranjak .

"Mau kemana, ?" Laki laki itu menahan pundak senja yang mau beranjak . "Ke kampus lah . Lepasin gak?"

"Oke, Sampai ketemu dikampus . Aku ega."

katanya lagi sambil mengulurkan tangan memperkenalkan namanya ke senja. "Senja Dian prawira . " Senja menjabat tangan laki-laki itu. Kemudian mereka pergi berlawanan arah.

"Dimana kamu,Senja ?. Ayah dan ibu cemas segera pulang . Kami berulangkali meneleponmu tapi tidak ada jawaban. "

Senja mengambil ponsel dari sakunya dan membaca pesan singkat dari ayahnya. Terlihat dilayar ponsel 5 missed call dari ayah dan ibunya. Senja duduk terpaku ditaman kampus memikirkan bagaimana nasibnya jika kedua orangtuanya bercerai. Bahkan gadis berkacamata ini meneteskan air mata kemudian mengusapnya dengan telapak tangannya segera.

"Nih," laki laki yang tadi memperkenalkan bahwa namanya adalah Ega lalu memberi tissu pada Senja

. "Kenapa kamu disini, pasti mengikutiku dari tadi. Atau kamu mau meledekku bodoh lagi ?"

" Iyalah bodoh, nangis kok dilap pake tangan . "

Ega tersenyum meledek Senja yang matanya masih berkaca-kaca. "Kamu pikir ini lucu ? dasar cowok aneh. "
"Senja, itu kan panggilanmu. sebagai permintaan maaf karena aku sering manggil kamu Bodoh jadi aku mau nemenin kamu disini silahkan curhat apapun itu biar kamu lega." Kata ega sambil mengulurkan jari kelingkingnya tanda permintaan maaf.

"Aku tidak menyukaimu, apalagi berfikir untuk menghabiskan waktu bersamamu . Permisi. " Senja semakin kesal dan meninggalkan Ega .

Monday, January 11, 2016

Sepenggal Kisah Masa Lalu

Kumulai darimana ceritaku ini. Terlalu panjang . Rumit.Kamu menjadikan sekelumit kisah kita mengendap dilubuk hati.Bukan siapa-siapa tapi pernah saling mengisi.Kamu tidak pernah menyatakan bahwa kita adalah pasangan.Tapi .. sikapmu. Sesekali kamu menelponku untuk datang kerumahmu. kita makan, kamu memintaku menyuapimu.Manja sekali bukan?!Kita Nobar film komedi waktu itu , kamu meledekku seperti tokoh dalam film itu dan kita tertawa . Ahh .. itu dulu.Sebelum Dia datang menuntunmu pergi dariku.oh ya, kamu pernah bilang kita akan terus sama-sama selagi Perasaan kita masih sama.Dan aku cukup tau diri ketika kamu berpaling itu artinya perasaan kita tak lagi sama . Tapi bukan perasaanku. Kamu !hhmmh.. Menghela nafasku ternyata lebih terasa lega daripada aku terus mengingatmu. Sesak.Kemudian mengubur dalam kenangan kita. semoga kelak sosok sepertimu tak kn kutemui lagi. Menyanjungku tinggi kemudian menghempaskn ku hingga hampir tak bisa bangkit dari keterpurukan.Munafik, terkadang kurasa. Saat bayangmusekelibat dimata. kutepis. kulakukan berulang kali hal seperti ini, Idiot kan ??!Kubiarkan perasaan berkecamukku dg sendirinya. Sampai pada akhirnya nanti aku berpaling dan menitipkan hati ku padaorang yg tepat. Jangan pernah kembali , kamu terlalu berani pergi meninggalkanku.

Sunday, January 10, 2016

34 Km

Sejuk semilir angin menembus tulang rusukku. Kusingkap anak rambut yang menutupi telinga Lani. Kuusap lembut . "Vin, vin..." Kudengar seseorang memanggilku dari luar pintu. "vin,maaf aku langsung masuk saja kupikir pintunya terbuka pasti kamu dirumah." Ternyata bulek yang memanggilku tadi. Belum sempat aku bertanya ada apa, "Bulek pinjam uangmu dulu vin, si ibnu butuh mau bayar spp les." katanya lagi sambil menatapku sayu. "Berapa bulek, vina cuma punya segini udah dibeliin susunya Lani kemarin." Kuperlihatkan uang 50ribuan satu dan 20 ribuan. "Haduh ndak cukup vin, butuhnya 120 ribu. Yaudah bulek cari pinjaman lain aja" kemudian bulek berlalu menutup pintu rumahku. Aku bekerja disebuah instansi lembaga pendidikan dikotaku. Lani adalah anakku satu-satunya. Suamiku tinggal dlluar kota sejak dimutasi karena ada proyek disana. Aku tinggal bersama orangtua dan anakku dikota pacitan. Tidak heran kalau bude dan tetanggaku sering datang kerumah dan meminjam uang, ibuku orang yang sangat baik bila memang ada uang tak segan membantu orang lain meski kadang uang itu tidak dikembalikan. Setiap hari aku bekerja untuk kebutuhan Lani yang masih berusia 2bulan.Suamiku terkadang pulang seminggu 2kali. Maklum perjalanan pacitan Surabaya cukup jauh jika ditempuh hanya dengan sepeda motor.Sedangkan aku melaju perjalanan 34km ku dari rumah sampai tempat kerja setiap hari kecuali hari libur aku menjaga Lani dirumah dengan ibu dan ayah.Ayahku sudah tidak bekerja semenjak Lani ada. Hari ini senin dan aku bersiap menuju kantor tiba-tiba telepon rumah berdering. "Kringgggg...." "Assalamualaikum, ini siapa ya ?" kudengar ibu mengangkat telepon diruang tengah. "oh ya.. ada. .. Oh gitu. Nanti saya sampaikan ya. " "iya walaikumsalam" Ibu menutup telepon dan menghampiriku. "siapa bu?" tanyaku sambil berkemas ke kantor "Argo itu vin , mau nebeng bareng kamu ." "Loh bu, trus ibu bilang iya gitu?" "iya vin, kasian katanya motornya lagi dibengkel." ibu berlalu dan menggendong Lani ke teras . Aku berfikir keras kenapa Argo selalu cari waktu untuk mengambil hati ibu. Argo adalah laki-laki yang dijodohkan ibu denganku tapi aku lebih memilih mas Rio ,suamiku. Hingga aku menikah dengan mas Rio ,ibu tetap saja melebih-lebihkan sosok Argo. "sayang , ibu berangkat kerja dulu ya." kukecup kening Lani yang menatapku dan tersenyum . Meskipun Lani masih bayi dan sering waktu aku tidak ada untuknya tapi aku tahu dia mengerti aku sangat menyayanginya . "hhmmmh" gumamku saat Argo tengah menyetopku dipertigaan jalan. "Vin, ibumu sudah bilang kan aku nebeng hari ini?" Katanya slengekan. "iya. Y udah naik " "Aku aja yang didepan kan aku cowok masa diboncengin cewek." Kita pindah posisi, Argo memboncengku. Hari itu berlalu begitu saja. Esoknya Mas Rio pulang ke Pacitan . Ada kebahagian tersendiri ketika mas Rio pulang , aku bisa menikmati secangkir kopi susu bersamanya di balkon kamar. "kalo mas ingat , kapan ya terakhir kita ngopi bareng seperti ini ?" "mungkin bulan lalu , yang pasti itu sudah lama sekali sayang ." tuturnya sambil tersenyum. "iya mas . oh ya tadi Argo berangkat kerja bareng aku mas, maaf mas aku baru bilang sekarang." Segera kuucap maaf pd suamiku, aku salah tidak izin pd suamiku ketika bertemu Argo. "Iya , itu bukan yang pertama kali kan Argo coba mendekati kamu ." Katanya lagi dengan menyentil hidungku. "Maaf mas, kalo bukan karna ibu meng-iyakan aku juga tidak mau." " iya sayang mas ngerti. Lani sudah tidur ya?" Mas Rio mengalihkan pembicaraan. Kemudian mas Rio menjemput Lani yang sudah tidur dikamar ibu . "Sayang , mas berangkat lagi ya ada meeting mendadak ." kulihat mas Rio sudah berpakaian rapi dan bersepatu. "kubuatkan kopi dulu mas , " Aku bangun dari kasur sambil menggendong Lani. "Ndak usah sayang, biar nanti mas beli disana selesai meeting." Mas Rio mengecup keningku dan Lani dan langsung pergi . Buat aku dan Lani , mas Rio adalah sosok suami sekaligus ayah yang sangat sayang dan bertanggung jawab meski bukan ayah siaga ketika Lani membutuhkan kasih sayangnya. "Vin, Rio nanti pulang kesini ya? " ibu menepuk pundakku pelan dari belakang. "tidak bu," "Lani, cucu kakung . Gendong kakung ya lihat kucing ..." ayahku keluar dari kamar menuju kami yang sedang berdiri didepan pintu ruang tamu . "oh ya, tadi Argo telepon ibu.." " kenapa bu? nebeng lagi . " aku memotong pembicaraan ibu. "bukan, katanya nanti mau mampir sini . Kamu diajak bareng . Katanya untuk rasa terimakasih karna kamu sudah mau ditebengi kemarin." "Hmmmmh. Lani sayang ibu mandi dulu ya." Aku berlalu meninggalkan ibu. 07.00 ... Ketika aku keluar dari kamar dan berkemas ke kantor si Argo sudah diruang tamu menggendong Lani. "Hai vin, sudah siap ?" sapa Argo . "maaf go, aku bisa berangkat sendiri ." Kukecup Lani , berpamitan dengan ayah dan ibu kemudian kustarter motor matic ku. Entahlah mungkin Argo merasa diabaikan , dia mengendarai mobilnya tepat dibelakangku . Kuperhatikan di spion dia memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Kupikir Argo akan menabrakku dari belakang jadi aku berjalan agak kepinggir. Tiba-tiba Argo menge-rem mobilnya tepat didepan motorku... "Vin, Nitip ini buat Lani dan ibumu. Tadi aku lupa .." "Apa ini ?" Kubolak balik sebuah box yang berukuran medium dibalut kertas kado itu. "udah kasih aja nanti, Terimakasih ya." "Terimakasih untuk apa?" Argo pergi kearah selatan 34 km persis dengan arah kantorku karena kantornya juga bersebelahan dengan kantorku. Kupacu lagi motor maticku sekitar 30 menit . Kemudian kuparkir motor dan ... "Vin, itu ada apa ? Banyak orang di seberang jalan ?" Alfi rekan kerjaku menunjuk kearah jalan dimana bergerumunan orang. "Aku nggak tau fii, coba kesana yuk." Aku dan Alfi berjalan menyeberangi zebracross menuju gemurunan orang tadi dan menyeruak diantara orang-orang panik itu. Kuingat lagi Argo yang mengemudi mobilnya dengan kecepatan tinggi, Mobil sedan Hitam dengan plat nomor yang sama kini didepanku dengan bumper yang penyok, keping kaca dimana-mana .Tapi aku tidak melihat Argo . "Dimana dia, lalu untuk apa dia memberiku box medium tadi?" aku berdiam diri . Tiba - tiba saja aku sudah berada di Kantor. Kutanya Alfi , "sejak kapan kita disini?" "Loh , kan tadi setelah melihat kecelakaan di seberang jalan , kita balik lagi kesini vin. Aku panggil-panggil kamu diem aja ya udah aku tarik aja tanganmu dan kita disini deh." panjang lebar Alfi menjelaskan kejadian tadi. Lalu,aku teringat dengan box medium berbalut kertas kado tadi dan aku segera membukanya. Ternyata didalam box tadi ada sebuah Buku dongeng untuk anak-anak dan selembar kertas bertuliskan "bu indah terimakasih telah memberi jalan untuk saya menyayangi Vina dan Lani. Saya sadar saya tidak berhak atas mereka, Rio lah yang bisa membahagiakan Vina dan Lani. Mulai hari ini saya akan berhenti mengejar Vina. "