Monday, February 22, 2016

Sepasang Bola Mata

Pacitan, 23 Februari.
"Bagaimana? Ini sudah hampir dimulai acaranya tapi Alfa belum juga datang.." Pak Sadam mulai bingung dan panik . Fela juga mulai panik ketika pasangan peran teaternya itu belum terlihat batang hidungnya. "Sudah begini saja pak, Bima yang menggantikan peran Alfa." Usul salah satu siswa. Dengan wajah mendukung dan kepiawaiannya memainkan peran apapun di teater akhirnya Bima menjadi pilihan alternatif.

Ulang tahun SMK N 2 Pacitan itu berlangsung lancar dan meriah. Hari itu Alfa benar tidak bisa datang. Tapi ntah apa alasannya. "Fel.. Pacar macam apa tuh si Alfa. Yang pacarnya Alfa kan lo kok Alfa ngabarinnya lewat Dean ?" Stefani layaknya kompor meleduk . Panas. Kurang lebih seperti itulah hati Fela saat ini.

Tak ayal lagi, Alfa terlihat sangat dekat dengan Dean. Fela melihat itu semua dengan teman-temannya. "Tuh kan fel, apa gue bilang?"
"Bener deh, eenek banget gue lihat mereka berdua gitu."
"Ihhh .. Apaaan pakai elus-elus rambut segala. Emang playboy tuh Alfa."
Fela tidak berkomentar apapun. Memang sejak acara teater itu Alfa tidak ada komunikasi dengan Fela. Ada perasaan tidak enak di hati Fela. Kemudian dia menghubungi Alfa. Apa yang didapat? Nomor yang anda tuju sedang sibuk. Cobalah beberapa saat lagi
Sayu diwajah cantik Fela mulai terlihat. Benarkah cowok yang dikenalnya belum lama itu meninggalkannya begitu saja.

Fela mencoba mencari alamat rumah Alfa. Jl. Ahmad yani no. 08
"Assalamualaikum" Fela mengucap salam dengan lantang. Degup jantungnya tak beraturan. Apa yang akan dia lakukan di rumah yang tak begitu besar tapi tinggi itu. Setelah beberapa kali mengucap salam , keluar seorang perempuan bertubuh kecil tinggi berambut lurus sebahu mengenakan jeans selutut dan kaos oblong . "Loh.. Kak Fela. Masuk kak"
Dean. Yaah, tidak salah lihat lagi itu Dean. Kenapa cewek ini lagi ?.Fela menolak tawaran Dean untuk masuk kedalam rumah itu. "Emh nggak usah yan. Alfa nya ada?"
"Ada kok kak, tadi sama aku di... "
"Oh ya udah . Aku balik ya. Makasih." Setelah melempar senyum hampa kemudian Fela pergi. Dean tercengang di depan pintu lalu masuk dan menutup pintu itu.

"Tuh kan Fel, udah jelas. Lo kerumahnya tapi yang keluar malah Dean. Ngapain coba dia dirumah Alfa??"
"Beeehhh, itu mah udah keterlaluan Fel. "
Tapi hati Fela berkata lain dengan pendapat teman-temannya.
"Alfa... " Tiba-tiba Fela berlari menghampiri Alfa yang sedang berjalan di depan kantin.
"Kenapa?"
"Al.. Kamu marah sama aku?"
Alfa hanya tersenyum. "Eh dek, tunggu. " Alfa meninggalkan Fela dan menyusul Dean di bangku taman. Tanpa pikir panjang , Fela mengikuti Alfa duduk dibangku bersama Dean dan meluapkan kekesalannya .
"Oh.. Jadi ini alasan kamu menghindari aku. "
Fela berkacak pinggang. "kak, kak Fela salah paham. Kak Alfa ini abangku. "
"Kok, kok bisa . " Aduh malu nih gue batin Fela mulai ikut campur.
"Iya kak. Tapi sekarang kak Alfa nggak mengenal siapapun kecuali keluarganya. " Dean menunduk.
"Siapa ini dek ? Dari tadi ngejar aku terus." Alfa menatap Fela kemudian menghampirinya.
"Kenapa De, Alfa jadi seperti ini?"
"Kata Dokter Kak Alfa Amnesia semenjak kecelakaan waktu itu. Makanya kak Alfa nggak bisa datang di acara itu."
"Al... Kamu masih inget aku kan? Al..aku Fe-la. Fela Al, yang waktu itu kamu nembak aku buat jadi pacar kamu. " Fela mengguncang-guncang bahu Alfa sambil memaksa ingatan Alfa kembali.
"Fela?, Dek siapa sih dia?" Alfa berpaling dan mendekat ke Dean .

Malam ini Alfa susah memejamkan mata. Ingatannya terus pada gadis ngeyel itu . Siapa dia Hatinya terus bertanya seperti itu. Tiba-tiba Dean masuk kamarnya dan memberikan sebuah bingkai kacamata . Dean terus memaksanya untuk mengingat tentang bingkai kacamata itu. Hingga akhirnya Dean memakainya.
"Fela. Aku mengingatnya dek, iya."

"Fela..tunggu." Alfa mengejar Fela yang baru memasuki kelas. "Alfa, kamu ingat aku? " Senyum Fela mengembang bak kue diberi backing powder.
"Bukankah kamu ingat kalau sepasang bola mata akan melihat apapun secara bersama. Seperti halnya kita. Akan terus sama-sama selama Tuhan mentakdirkan. "
"Kacamata itu masih? " Fela tertawa . 1 tahun lalu kacamata tanpa kaca itu adalah saksi first date mereka. Setiap mengingat kejadian waktu itu mereka tertawa. Kacamata itu baru dibeli dari sebuah toko. Tapi setelah dipakai beberapa detik kacanya jatuh dengan sendirinya. Mereka menganggap itu takdir Tuhan. Biarkan kita saling melihat sepasang bola mata yang tulus menyayangi.

Thursday, February 18, 2016

Pudarnya Cinta Reno

Perempuan . Makhluk Tuhan paling ribet. Cerewet. Tapi tidak sedikit juga yang pendiam. Anggun. Perihal mudah dan sulitnya menjadi seorang perempuan tergantung dari pribadi masing-masing. Tidak tanggung-tanggung pula jika gender sebagai perempuan tidak membanggakan maka ia ganti gendernya menjadi seorang laki-laki. Tidak kah hal itu lebih mulia dari Perempuan kedua ?

Entahlah, dia bukan oranglain. Tapi sorot matanya menandakan bahwa dia tidak menyukaiku sejak awal bertemu. Kecemburuanku bukan tidak beralasan. Itu jelas kurasakan. Sakit.

Hujan di luar sana membuatku menggigil. Kurapatkan badanku ke tembok. Mencoba berlindung. Jam tanganku seakan berjalan sangat lambat. Ahh, mungkin hanya perasaanku saja karena sedang menunggu seseorang. Tidak ! Jarum jam itu memang tidak bergerak. Setelah kulihat beberapa kali ternyata jam itu mati. Basah. Oohh aku lupa ini bukan jam waterproof. Sial !

Kedua Telapak tanganku bersatu padu . Kugesek-gesek. Mencoba meraih kehangatan. Sekitar 30 menit aku menunggunya akhirnya si kurus kerempeng itu muncul juga.

"Lama ya? Ups, maaf . Ayo naik"

"Cukup membeku sih ." Kemudian aku memakai jas hujan dan duduk di jok motor belakangnya. Sepanjang perjalanan kami hanya diam. Kalau pun mau ngobrol tidak akan terdengar karena hujan begitu deras.

"Hei, kenapa nggak dilepas sepatumu ? " "Hah. apa?? "

Dia menepikan motornya dan berhenti. "Loh, kenapa berhenti disini ?"

"Ayo lepas sepatumu. Besok kan masih dipakai. "

"Masa aku nggak pakai alas apapun?"

"Ini pakai sandalku. " Si kurus kerempeng itu melepas sendalnya dan menaruhnya didekat kakiku. Kulepas sepatu hitamku itu dan kuterima tawarannya.

1 jam perjalanan menuju rumahku. Si kurus kerempeng itu meninggalkanku di halaman rumah. Tapi kemudian memutar balik arah , " Oh ya,, sendalku ?" . Dia menstarter motornya dan berlalu setelah aku mengucap terima kasih.

Aku mengenalnya 1 tahun lalu saat perayaan ulang tahun temanku . Sampai saat ini tak banyak sikapnya yang berubah . Berubah membenciku atau pun berkata kasar padaku meski begitu comel dan lancang nya aku padanya.

Setahun kemudian si kurus kerempeng itu mengenalkan aku pada orangtuanya. Begitu aku menapakan kakiku di rumah gedong itu jabatan hangat laki-laki paruh baya menyambutku. Sudah bisa ditebak laki-laki itu adalah ayahnya. "Maa.. Ada tamu nih ma .." Laki-laki itu berulang kali memanggil istrinya yang tak lain adalah ibu si kurus kerempeng itu.

Sekitar 3 menit ibu itu keluar dengan penampilan yang biasa-biasa saja dibanding rumahnya yang kemerlapannya dimana-mana .

Ibu itu tersenyum padaku dan menjabat tangan serta menanyakan namaku. Si kurus kerempeng itu tiba-tiba mendekati ibunya dan berbisik. "Ma, ini adalah Calon istriku." Ibu itu kembali menatapku ,dalam . Batinku sangat takut akan tatapan itu . Kemudian ibu itu menanyakan apa aku masih sekolah, tentu iya jawabanku. Saat itu aku masih kelas 3 SMA. Si kurus kerempeng adalah kakak kelasku. Dengan alasan tidak ingin merepotkan orangtua akhirnya dia memilih bekerja mendapatkan uang daripada harus berpayah-payah kuliah , mikir UTS maupun UAS apalagi skripsi.

Singkatnya, Aku dipinang si kurus kerempeng itu 2 tahun setelah kelulusan. Jika ditanya, bahagia? Jelas. Kenapa? Aku sangat mencintai si kurus kerempeng itu dengan segala sikap dan perilaku yang tak pernah berubah dari tahun ke tahun aku mengenalnya.Jika ditanya, Sedih? Tentu. Batinku yang takut akan hal - hal yang tidak pernah aku pahami . "Hei, istriku. " si kurus kerempeng itu membuyarkan lamunanku akan ketakutan itu. Oh bukan . Reno . Ya, nama lelaki yang selalu ku panggil kurus kerempeng itu .

Kembali lagi pada kalimat Kecemburuanku bukan tidak beralasan. Itu jelas kurasakan. Sakit. Perempuan itu. Tatapan dalam itu. Bukan aku mengambilnya lalu membawa pergi begitu saja. Reno adalah satu-satunya yang kumiliki disini. Setelah ayahku menyerahkan aku padanya beberapa bulan lalu , aku ikut bersama Reno di rumah gedong yang ku sebut kemerlapannya dimana-dimana. Aku bukan wanita karir tapi hanya membantu Reno menafkahiku. Salahkah dengan hal itu? Kurasa tidak. Sekarang perempuan dan laki-laki adalah sama derajatnya perihal pekerjaan.

Perempuan itu. Aku sangat takut saat Reno di luar kota. Tinggal di rumah gedong bukan keinginanku jika di dalamnya aku hanya menjadi debu yang mengotori. Tatapan itu. Perempuan itu mendekatiku yang sedang duduk di ruang tengah. "Bajumu bagus." Aku segera menebar senyum pada perempuan itu dan menghela nafas. "Bagus lagi itu loh di Butik Sheila." Masih dengan senyum yang sama tapi batinku bukan lagi takut. Penat.

Hari kedua . Reno baru saja meneleponku bahwa ia di perjalanan menuju rumah. Sungguh bahagia . Seperti pertama kali aku bertemu dengannya. Tidak ingin kuceritakan perempuan itu padanya. Kurasa hanya akan membuka luka hati Reno yang susah payah kukatupkan rapat. "Sampai mana? Nanti kopinya disana. Sudah kuseduh. Jika Reno datang berikan padanya. " Kata perempuan itu sambil menunjuk meja makan. Tanpa harus menunggu jawabanku perempuan itu pergi.

Sekali lagi kutegaskan pada diriku sendiri . Perempuan itu. Tidak akan aku ceritakan pada Reno.

Detik - detik kedatangan Reno . Rencana nya akan kubuatkan omlet kesukaannya. Aku tidak sabar akan bertemu dengan Reno malam itu dan melihatnya lahap dengan omlet buatanku. "Jangan pakai yang itu. " Perempuan itu menatapku saat aku di dapur menenteng teflon hitam ditangan . "Jangan pakai yang itu juga." Menarik nafas dalam dan segera ku ganti pilihanku dengan membeli omlet saja di luar sana. Bukan memasaknya. Sekali lagi, tidak akan kuceritakan pada Reno tentang perempuan itu.

. "Sayang... Capek ya? Hemmmm ..Mandi trus makan ya. " Kulepas dasi Reno dan menatapnya, rindu. Mata Reno berkata lain. Mimik wajahnya juga lain. Apa aku berbuat kesalahan ? Ingatanku jauh melayang sejak Reno pergi keluar kota. Mencoba menelusuri hal apa yang aku perbuat. "Kamu tidak suka padanya?" Tiba-tiba Reno membuyarkan ingatanku. Aku tidak tahu apa maksudnya. Reno kembali menanyakan hal itu padaku kali ini lebih jelas dan keras. Sebelumnya Reno tidak pernah begitu. Seperti yang pernah kukatakan Sikapnya tidak berubah dari tahun ke tahun aku mengenalnya. Perempuan itu. Kembali bermain dengan skenarionya. Bukan aku merebut Reno. Tapi bukankah aku juga berhak atas kasih sayang yang diberikan Reno padaku.

Reno sudah berubah sejak pulang dari luar kota. Apapun yang kulakukan adalah sebuah kesalahan. Dan fisikku adalah sebuah cela bagi perempuan itu. Pernah waktu badanku yang kurus tinggi dan sedikit bungkuk dengan kulit sawo matang ini membuatku dicibir. Kemudian Reno tidak lagi melindungiku. Ibuku melahirkan bertaruh nyawa, aku dilahirkan tidak untuk dicaci maki seperti ini. Jika bukan demi Reno. Si kurus kerempeng yang selalu ada waktu untukku. Dulu.

Kurasa Reno harus tahu bagaimana perempuan itu . Tapi.. Sampai saat ini aku tidak menemukan kunci gembok untuk mengubah pemikiranku; tidak akan kuceritakan pada Reno tentang perempuan itu. Mulutku masih tertutup rapat untuk surga Reno.

Friday, February 12, 2016

Baiknya Begini

"Sudah cukup han, pikirlah apa yang membuatku seperti ini. Pikir !" Aku berdiam diri menatap langit-langit yang seakan ikut menghakimiku. "Berkali-kali aku katakan padamu , tak usah menghubungi wanitamu itu lagi." Sesekali isakan Emmy menghujamku. "Tidakkah kamu ingin melihatku bahagia tanpa harus mengingat wanitamu itu." Ini kali kelima Emmy membuang tisu bekas hujan dimatanya . "Han, kenapa kamu diam saja. Katakan , alasan apa lagi kamu menghubungi wanitamu itu? Apa Han?" Emmy mengguncang-guncang tubuhku dengan menarik kerah kemejaku. Aku hanya diam. Apa yang akan kukatakan pada wanita didepanku. Wanita yang ku kenal selama 6 tahun. Wanita yang ku nikahi 1 tahun.

Emmy terlelap dimeja kerjanya. Kubopong badannya yang tinggi ideal itu ke kamar. Sialnya saat aku hendak memasuki pintu kamar kepala Emmy terpentok tembok dan Emmy terbangun. "Han, sudah pulang? Apa-apaan membopongku seperti ini?"

"Oh, maafkan aku Em. Aku tidak berniat membangunkanmu . Maaf kepalamu terpentok tembok. Maafkan aku." Kulepaskan Emmy dari boponganku. Kuusap rambutnya yang hanya sepundak itu. "Naskahku belum selesai, kalau mau tidur duluan aja. Kopi mu di ruang makan. " Emmy kembali ke meja kerjanya dan jemarinya kembali bermain di atas keyboard.

"Han, aku tidak tau sampai kapan kamu akan belajar melupakan wanitamu. Aku tidak bisa menerima ini. " Sudah biasa aku melihat pesan semacam ini di perabotan rumah . Tiga minggu ini Emmy tidak bicara padaku. Memang, aku tidak bisa menjelaskan apapun tentang wanita itu. Emmy baik. Mencintaiku tulus. Bahkan di sela kesibukannya sebagai penulis , Emmy masih melayaniku layakknya istri teladan. Tapi untuk mencintainya hati ini begitu tipis . Rentan. Bukan mengkhianati ketulusan Emmy. Bukan juga karena Popi. Wanita yang kucintai sebelum Emmy. Trauma di khianati yang membuatku seperti ini. Aku pernah sangat mencintai wanita. Sangat mencintainya . Tapi wanita itu bermain di belakangku dengan pria lain. Sejak saat itu aku merentangkan jarak dengan wanita manapun.

"Han, Aku pergi sementara waktu. Ada revisi novel yang harus ku selesaikan dengan mbak Ambar. Bekalmu ada dimeja makan . Kopimu sudah kusiapkan tinggal menyeduhnya saja." Kudapati tulisan tangan Emmy yang ditempel di pintu kulkas. Ya Tuhan, mimpi apa Emmy ku ini mendapatkan suami seburuk aku.

"Emm, aku ingin bicara. Bukan membaca. Kamu bisa menulis untuk pembacamu diluar sana. Tapi aku bukan mereka. Aku suamimu." Kududukan Emmy di tepi kasur.

"Lalu.." Kalimat Emmy menggantung dengan dagunya mendongak kearahku. "Wanita itu. Kamu ingat novelmu Baikknya Begini ? "

"Ya.. Tentu saja. Lalu ?"

"Popi pengagum rahasiamu. Pembaca setia novelmu. Saat itu dia menghubungiku ingin bertemu langsung denganmu tapi tidak berani. "

"Kenapa tidak berani? Apa karena dia masih wanitamu dan aku istrimu..?" Aku menelan ludah. Begitu galakknya wanita yang kunikahi. Bahkan aku baru sadar matanya melototiku.

"Bukan Em, dia takut dengan galakmu. Karena dia pernah mendengar amukanmu saat aku meneleponnya tempo hari . " Kulihat Emmy sedikit mengatur nafas. "Aku bukan tidak mencintaimu . Atau masih mencintai Popi. "

"Lalu ap han, kenapa kamu memberi teka teki seperti ini padaku?" Emmy kembali memandangku melotot.

"Aku trauma Em. Aku trauma di khianati . Meski kamu sedikitpun tidak pernah melukaiku. Bukankah seseorang terkadang bisa memaafkan tapi sulit melupakan dan menyembuhkan luka menganga yang ditorehkan oleh pengkhiantan itu ? Coba kamu bayangkan Em. " Kuraih tangan Emmy , kugenggam sekuat -kuatnya. Kulihat pekatnya mata istriku ini.

"Han, apa kamu tidak percaya padaku selama ini?" Pekat itu kemudian berubah menjadi butiran butiran kecil membasahi pipi Emmy.

"Bukan. Bukan Em. Tapi sulit ku jelaskan padamu. Apa sejauh ini kamu merasakan aku tidak mencintaimu ? Apa sejauh menikahimu aku mengkhianatimu? apa aku menyakitimu Em? " Emmy terdiam . Tersungkur di lantai. Butiran butiran itu bukan lagi di pipi. "Em, aku mencintaimu. Jangan lagi salah paham . Popi tidak lebih hebat darimu yang mampu menjaga hati dan kehormatannya untuk laki-laki yang mencintainya. " Kudekapkan wajah istriku itu di pelukanku.

"Maafkan aku Han, aku tidak cukup pintar menahan ego dan emosiku . Aku tidak bisa menempatkan cemburu yang seharusnya. Maafkan aku Han. "

Emmy memelukku erat masih dengan tangisnya. Segera ku cair kan suasana haru itu dengan menggelitik pinggangnya yang kurasa tak lebih besar dari diameter galon di ruang tengah milik kami . Hehee....

Monday, February 8, 2016

Hidup Selucu Banyolan Komedian

Terkadang hidup itu selucu saat trio warkop atau komedian lain membanyol untuk permirsanya. :D

Hemhh... Mulai dari lingkup keluarga, teman, kolega kerja sampai orang lain yang bukan siapa-siapa kita.

Hidup terlalu singkat untuk mengamati bacotan orang lain tentang kita. Haha, coba guys ingat wajah mereka satu per satu yang pernah mengomentari hidup kamu. Pengen nampol? Gemes? kesel?

Upss, jangan maen kasar ya kak. Hihii .. Kembali ke kalimat awal ya. Hidup itu selucu banyolan para komedian di TV.

Ada hal positif dibalik itu semua ya guys, contohnya nih:

- Dengan orang lain mengamati hidup kamu artinya hidup kamu jauh lebih menarik dibanding mereka

-kamu adalah inspirasi/motivator mereka.

-Kamu memberi lapangan pekerjaan buat mereka yang tidak punya /kurang pekerjaan. Hahaa . Tuh kan malah beramal.

Apa ya, menurut ane orang kaya gitu emang ngeselin sih. Tapi kalo kita tau banyak banget hal positif dibalik itu ngga terasa berat kok menghadapi orang-orang seperti mereka. Hidup itu selucu banyolan para komedian . Yapps.. Buktinya kita selalu tertawa bahkan sampai menangis menghadapi persoalan hidup. Persoalan hidup? Wattchaauuuu....

Kayaknya berat ya guys kalo ngmongin yang satu itu. Heehee. Apa dulu nih persoalannya. Soal jadi gampang kalo ada uang. Eitsss malah kemana-mana nih pembahasannya. Yang jelas jangan galau ya guys kalo ngalamin hal kaya yang ane ceritain diatas. Ambil hikmahnya aja hahaa...

Hidup terlalu singkat buat dengerin bacotan orang lain yang nggak penting.Toh, bukan mereka yang kasih makan kita. Mereka juga bukan mesin atm ketika jari jemari menekan kode pin langsung keluar uang 50-100 ribuan. Ingat guys. Mereka bukan siapa-siapa. Kalau kamu ladenin mereka bakal habis tuh air liur , berbusa ya berbusa deh tuh mulut.

Tuesday, February 2, 2016

Lampion Tanggal 4 Februari

"1,2,3..!" Bang Hanif memberi aba-aba dan kami mulai berlari . Ya, setiap akhir pekan keluarga kami selalu menyempatkan waktu untuk jogging bersama . Kali ini pantai adalah destinasi kami setelah sebelumnya memilih di taman komplek .

"Ahhh, sudahlah bang Rani capek. Baso yukk ! ". Bang Hanif menghentikan langkahnya begitupun dengan mama dan papa. Tiga pasang mata menatapku sambil tersenyum. "Ayolah Ran, kamu paling payah diantara kami hahaa !". Bang Hanif mengejekku. Melihatku sangat lelah mama dan papa mengajak kami pulang.

Keluarga kami sangat kompak, harmonis dan seru. Mama yang bawel tapi penyayang, papa yang humoris, abang Hanif yang perhatian tapi posesif dan aku cengeng. Sampai hari itu terjadi .

Kutanggalkan seragam sekolahku. Lalu menghambur ke kamar bang Hanif. "Bang, mama sama papa kemana?" . Bang Hanif tidak menjawab. Kalut. "Biar pa, biar mereka dengar . Sudah puluhan juta Hanif menghambur-hamburkan uang kita. Untuk apa? hal yang tidak jelas."

Itu suara mama, ya aku sangat yakin. Kutinggalkan bang Hanif sendiri dikamarnya. "Tapi ma, bukannya kita sudah punya perjanjian untuk memperlakukan Hanif seperti anak kita sendiri?! sudahlah."

Apa? perjanjian? anak kita sendiri? Begitu hatiku bertanya pada diriku sendiri. "Sekarang kamu tahu Ran, aku ini bukan abang kandungmu. Biarkan aku pergi. "

Tiba-tiba bang Hanif berdiri di belakangku tepat aku mendengar pembicaraan mama dan papa dibalik pintu kamar mereka.

Bang Hanif memang badung, meminta uang untuk keperluan kampus ke mama atau papa tapi dosennya selalu menelepon mama bahwa bang Hanif sudah lama tidak masuk. "Tapi bang, Rani sudah menyayangi bang Hanif seperti abang kandung Rani." Tak kuat membendung hujan , pecah . Sampai mama dan papa mendengar percakapan kami lalu membuka pintu kamar mereka . Kulihat mendung pekat dimata mama, sebentar lagi akan turun hujan. Tapi kulihat juga wajah kesal mama terhadap bang Hanif . "Akan kucari orangtua kandungku, trimakasih ma, pa dan Rani yang sudah menyayangi Hanif seperti keluarga sendiri. Maaf untuk mama dan papa , suatu hari akan Hanif kembalikan uang yang Hanif pakai untuk membiayai perawatan orang yang Hanif tabrak tempo hari. "

Keadaan hening, kami semua tercengang . Belum sempat mama dan papa bicara, bang Hanif meninggalkan kami. Ingin ku tahan bang Hanif yang waktu itu baru menuruni anak tangga menuju pintu keluar . Tapi langkahku tertahan setelah mengingat bahwa bang Hanif akan mencari orangtuanya.
Mama dan papa merasa bersalah pada bang Hanif, bang Hanif menghilang. Entah dimana, kemana,sudah makankah dia? entahlah. aku sangat merindukannya.

1 bulan sudah bang Hanif tidak kembali pada kami. Sudahkah dia menemukan kedua orangtuanya ? Aku tidak tahu bang Hanif kapan kembali kemudian melarangku bermain dengan teman laki-laki, melarangku pergi sendirian di waktu malam, melarangku bangun kesiangan dan masih banyak lagi.

Memang, mama dan papa pernah bercerita padaku dulu menemukan bang Hanif di depan rumah tapi tidak ada siapapun saat itu hanya hujan deras dan petir menggelegar yang menambah tangisan bayi (bang Hanif) yang masih berlumuran darah sepertinya baru lahir kemudian ditinggalkan orangtuanya secara sengaja. Mama dan papa membesarkan bang Hanif layaknya anak sendiri. Sampai akhirnya aku hadir di dunia ini , mereka pun tidak pernah menganggap bang Hanif adalah orang asing.

Hari ini, 3 Februari, 23.45. "pa, sebentar lagi tanggal 4 februari tepat kita menemukan bayi abang didepan rumah 20 tahun yang lalu." Mama meneteskan air mata. Akupun menangis. Aku rindu bang Hanif. Papa memelukku yang saat itu kebetulan berkumpul di kamarku. "Pa, terbangkan lampion. Seperti tahun - tahun sebelumnya saat ulang tahun bang Hanif. " Aku bersemangat dan melepaskan pelukan papa. kuhapus air mataku. Kami menuju pantai yang waktu itu kami jogging terakhir dengan bang Hanif. Mama dan papa menyiapkan lampion sedangkan aku sibuk make a wish agar Tuhan menemukan kami dengan bang Hanif.

04 Februari , 00.00 "Tuhan, pertemukan kami dengan Hanif." Seru papa lalu disusul mama, "Kami berjanji akan menyayanginya." Karena aku tidak suka berkata pada Tuhan seperti cara mama dan papa , aku memilih diam dan memejamkan mata kemudian berdoa . "Ya Tuhan, bolehkah aku bertemu dengan abang Hanifku saat ini? jika tidak, cukup lindungilah dia . Sampaikan padanya bahwa aku sangat mencintainya." Entah sejak kapan rinduku ini berubah menjadi hal memilukan yang orang-orang sebut itu cinta. Tidak lama lampion itu kami terbangkan . Indah. Andaikan bang Hanif bersamaku saat ini. Kukatakan bahwa aku menyayanginya lebih dari perasaan seorang adik terhadap abangnya.