"Bagaimana? Ini sudah hampir dimulai acaranya tapi Alfa belum juga datang.." Pak Sadam mulai bingung dan panik . Fela juga mulai panik ketika pasangan peran teaternya itu belum terlihat batang hidungnya. "Sudah begini saja pak, Bima yang menggantikan peran Alfa." Usul salah satu siswa. Dengan wajah mendukung dan kepiawaiannya memainkan peran apapun di teater akhirnya Bima menjadi pilihan alternatif.
Ulang tahun SMK N 2 Pacitan itu berlangsung lancar dan meriah. Hari itu Alfa benar tidak bisa datang. Tapi ntah apa alasannya. "Fel.. Pacar macam apa tuh si Alfa. Yang pacarnya Alfa kan lo kok Alfa ngabarinnya lewat Dean ?" Stefani layaknya kompor meleduk . Panas. Kurang lebih seperti itulah hati Fela saat ini.
Tak ayal lagi, Alfa terlihat sangat dekat dengan Dean. Fela melihat itu semua dengan teman-temannya. "Tuh kan fel, apa gue bilang?""Bener deh, eenek banget gue lihat mereka berdua gitu."
"Ihhh .. Apaaan pakai elus-elus rambut segala. Emang playboy tuh Alfa."
Fela tidak berkomentar apapun. Memang sejak acara teater itu Alfa tidak ada komunikasi dengan Fela. Ada perasaan tidak enak di hati Fela. Kemudian dia menghubungi Alfa. Apa yang didapat? Nomor yang anda tuju sedang sibuk. Cobalah beberapa saat lagi
Sayu diwajah cantik Fela mulai terlihat. Benarkah cowok yang dikenalnya belum lama itu meninggalkannya begitu saja. Fela mencoba mencari alamat rumah Alfa. Jl. Ahmad yani no. 08
"Assalamualaikum" Fela mengucap salam dengan lantang. Degup jantungnya tak beraturan. Apa yang akan dia lakukan di rumah yang tak begitu besar tapi tinggi itu. Setelah beberapa kali mengucap salam , keluar seorang perempuan bertubuh kecil tinggi berambut lurus sebahu mengenakan jeans selutut dan kaos oblong . "Loh.. Kak Fela. Masuk kak"
Dean. Yaah, tidak salah lihat lagi itu Dean. Kenapa cewek ini lagi ?.Fela menolak tawaran Dean untuk masuk kedalam rumah itu. "Emh nggak usah yan. Alfa nya ada?"
"Ada kok kak, tadi sama aku di... "
"Oh ya udah . Aku balik ya. Makasih." Setelah melempar senyum hampa kemudian Fela pergi. Dean tercengang di depan pintu lalu masuk dan menutup pintu itu.
"Tuh kan Fel, udah jelas. Lo kerumahnya tapi yang keluar malah Dean. Ngapain coba dia dirumah Alfa??"
"Beeehhh, itu mah udah keterlaluan Fel. "
Tapi hati Fela berkata lain dengan pendapat teman-temannya.
"Alfa... " Tiba-tiba Fela berlari menghampiri Alfa yang sedang berjalan di depan kantin.
"Kenapa?"
"Al.. Kamu marah sama aku?"
Alfa hanya tersenyum. "Eh dek, tunggu. " Alfa meninggalkan Fela dan menyusul Dean di bangku taman. Tanpa pikir panjang , Fela mengikuti Alfa duduk dibangku bersama Dean dan meluapkan kekesalannya .
"Oh.. Jadi ini alasan kamu menghindari aku. "
Fela berkacak pinggang.
"kak, kak Fela salah paham. Kak Alfa ini abangku. "
"Kok, kok bisa . "
Aduh malu nih gue batin Fela mulai ikut campur.
"Iya kak. Tapi sekarang kak Alfa nggak mengenal siapapun kecuali keluarganya. " Dean menunduk.
"Siapa ini dek ? Dari tadi ngejar aku terus." Alfa menatap Fela kemudian menghampirinya.
"Kenapa De, Alfa jadi seperti ini?"
"Kata Dokter Kak Alfa Amnesia semenjak kecelakaan waktu itu. Makanya kak Alfa nggak bisa datang di acara itu."
"Al... Kamu masih inget aku kan? Al..aku Fe-la. Fela Al, yang waktu itu kamu nembak aku buat jadi pacar kamu. " Fela mengguncang-guncang bahu Alfa sambil memaksa ingatan Alfa kembali.
"Fela?, Dek siapa sih dia?" Alfa berpaling dan mendekat ke Dean .
Malam ini Alfa susah memejamkan mata. Ingatannya terus pada gadis ngeyel itu . Siapa dia Hatinya terus bertanya seperti itu. Tiba-tiba Dean masuk kamarnya dan memberikan sebuah bingkai kacamata . Dean terus memaksanya untuk mengingat tentang bingkai kacamata itu. Hingga akhirnya Dean memakainya.
"Fela. Aku mengingatnya dek, iya."
"Fela..tunggu." Alfa mengejar Fela yang baru memasuki kelas.
"Alfa, kamu ingat aku? " Senyum Fela mengembang bak kue diberi backing powder.
"Bukankah kamu ingat kalau sepasang bola mata akan melihat apapun secara bersama. Seperti halnya kita. Akan terus sama-sama selama Tuhan mentakdirkan. "
"Kacamata itu masih? " Fela tertawa . 1 tahun lalu kacamata tanpa kaca itu adalah saksi first date mereka. Setiap mengingat kejadian waktu itu mereka tertawa. Kacamata itu baru dibeli dari sebuah toko. Tapi setelah dipakai beberapa detik kacanya jatuh dengan sendirinya. Mereka menganggap itu takdir Tuhan. Biarkan kita saling melihat sepasang bola mata yang tulus menyayangi.