Emmy terlelap dimeja kerjanya. Kubopong badannya yang tinggi ideal itu ke kamar. Sialnya saat aku hendak memasuki pintu kamar kepala Emmy terpentok tembok dan Emmy terbangun. "Han, sudah pulang? Apa-apaan membopongku seperti ini?"
"Oh, maafkan aku Em. Aku tidak berniat membangunkanmu . Maaf kepalamu terpentok tembok. Maafkan aku." Kulepaskan Emmy dari boponganku. Kuusap rambutnya yang hanya sepundak itu. "Naskahku belum selesai, kalau mau tidur duluan aja. Kopi mu di ruang makan. " Emmy kembali ke meja kerjanya dan jemarinya kembali bermain di atas keyboard.
"Han, aku tidak tau sampai kapan kamu akan belajar melupakan wanitamu. Aku tidak bisa menerima ini. " Sudah biasa aku melihat pesan semacam ini di perabotan rumah . Tiga minggu ini Emmy tidak bicara padaku. Memang, aku tidak bisa menjelaskan apapun tentang wanita itu. Emmy baik. Mencintaiku tulus. Bahkan di sela kesibukannya sebagai penulis , Emmy masih melayaniku layakknya istri teladan. Tapi untuk mencintainya hati ini begitu tipis . Rentan. Bukan mengkhianati ketulusan Emmy. Bukan juga karena Popi. Wanita yang kucintai sebelum Emmy. Trauma di khianati yang membuatku seperti ini. Aku pernah sangat mencintai wanita. Sangat mencintainya . Tapi wanita itu bermain di belakangku dengan pria lain. Sejak saat itu aku merentangkan jarak dengan wanita manapun."Han, Aku pergi sementara waktu. Ada revisi novel yang harus ku selesaikan dengan mbak Ambar. Bekalmu ada dimeja makan . Kopimu sudah kusiapkan tinggal menyeduhnya saja." Kudapati tulisan tangan Emmy yang ditempel di pintu kulkas. Ya Tuhan, mimpi apa Emmy ku ini mendapatkan suami seburuk aku.
"Emm, aku ingin bicara. Bukan membaca. Kamu bisa menulis untuk pembacamu diluar sana. Tapi aku bukan mereka. Aku suamimu." Kududukan Emmy di tepi kasur. "Lalu.." Kalimat Emmy menggantung dengan dagunya mendongak kearahku. "Wanita itu. Kamu ingat novelmu Baikknya Begini ? ""Ya.. Tentu saja. Lalu ?"
"Popi pengagum rahasiamu. Pembaca setia novelmu. Saat itu dia menghubungiku ingin bertemu langsung denganmu tapi tidak berani. ""Kenapa tidak berani? Apa karena dia masih wanitamu dan aku istrimu..?" Aku menelan ludah. Begitu galakknya wanita yang kunikahi. Bahkan aku baru sadar matanya melototiku.
"Bukan Em, dia takut dengan galakmu. Karena dia pernah mendengar amukanmu saat aku meneleponnya tempo hari . " Kulihat Emmy sedikit mengatur nafas. "Aku bukan tidak mencintaimu . Atau masih mencintai Popi. ""Lalu ap han, kenapa kamu memberi teka teki seperti ini padaku?" Emmy kembali memandangku melotot.
"Aku trauma Em. Aku trauma di khianati . Meski kamu sedikitpun tidak pernah melukaiku. Bukankah seseorang terkadang bisa memaafkan tapi sulit melupakan dan menyembuhkan luka menganga yang ditorehkan oleh pengkhiantan itu ? Coba kamu bayangkan Em. " Kuraih tangan Emmy , kugenggam sekuat -kuatnya. Kulihat pekatnya mata istriku ini."Han, apa kamu tidak percaya padaku selama ini?" Pekat itu kemudian berubah menjadi butiran butiran kecil membasahi pipi Emmy.
"Bukan. Bukan Em. Tapi sulit ku jelaskan padamu. Apa sejauh ini kamu merasakan aku tidak mencintaimu ? Apa sejauh menikahimu aku mengkhianatimu? apa aku menyakitimu Em? " Emmy terdiam . Tersungkur di lantai. Butiran butiran itu bukan lagi di pipi. "Em, aku mencintaimu. Jangan lagi salah paham . Popi tidak lebih hebat darimu yang mampu menjaga hati dan kehormatannya untuk laki-laki yang mencintainya. " Kudekapkan wajah istriku itu di pelukanku."Maafkan aku Han, aku tidak cukup pintar menahan ego dan emosiku . Aku tidak bisa menempatkan cemburu yang seharusnya. Maafkan aku Han. "
Emmy memelukku erat masih dengan tangisnya. Segera ku cair kan suasana haru itu dengan menggelitik pinggangnya yang kurasa tak lebih besar dari diameter galon di ruang tengah milik kami . Hehee....
No comments:
Post a Comment
Terimakasih telah mengunjungi blog saya. Jangan lupa kembali. Tinggalkan alamat blog anda :)