Tuesday, February 2, 2016

Lampion Tanggal 4 Februari

"1,2,3..!" Bang Hanif memberi aba-aba dan kami mulai berlari . Ya, setiap akhir pekan keluarga kami selalu menyempatkan waktu untuk jogging bersama . Kali ini pantai adalah destinasi kami setelah sebelumnya memilih di taman komplek .

"Ahhh, sudahlah bang Rani capek. Baso yukk ! ". Bang Hanif menghentikan langkahnya begitupun dengan mama dan papa. Tiga pasang mata menatapku sambil tersenyum. "Ayolah Ran, kamu paling payah diantara kami hahaa !". Bang Hanif mengejekku. Melihatku sangat lelah mama dan papa mengajak kami pulang.

Keluarga kami sangat kompak, harmonis dan seru. Mama yang bawel tapi penyayang, papa yang humoris, abang Hanif yang perhatian tapi posesif dan aku cengeng. Sampai hari itu terjadi .

Kutanggalkan seragam sekolahku. Lalu menghambur ke kamar bang Hanif. "Bang, mama sama papa kemana?" . Bang Hanif tidak menjawab. Kalut. "Biar pa, biar mereka dengar . Sudah puluhan juta Hanif menghambur-hamburkan uang kita. Untuk apa? hal yang tidak jelas."

Itu suara mama, ya aku sangat yakin. Kutinggalkan bang Hanif sendiri dikamarnya. "Tapi ma, bukannya kita sudah punya perjanjian untuk memperlakukan Hanif seperti anak kita sendiri?! sudahlah."

Apa? perjanjian? anak kita sendiri? Begitu hatiku bertanya pada diriku sendiri. "Sekarang kamu tahu Ran, aku ini bukan abang kandungmu. Biarkan aku pergi. "

Tiba-tiba bang Hanif berdiri di belakangku tepat aku mendengar pembicaraan mama dan papa dibalik pintu kamar mereka.

Bang Hanif memang badung, meminta uang untuk keperluan kampus ke mama atau papa tapi dosennya selalu menelepon mama bahwa bang Hanif sudah lama tidak masuk. "Tapi bang, Rani sudah menyayangi bang Hanif seperti abang kandung Rani." Tak kuat membendung hujan , pecah . Sampai mama dan papa mendengar percakapan kami lalu membuka pintu kamar mereka . Kulihat mendung pekat dimata mama, sebentar lagi akan turun hujan. Tapi kulihat juga wajah kesal mama terhadap bang Hanif . "Akan kucari orangtua kandungku, trimakasih ma, pa dan Rani yang sudah menyayangi Hanif seperti keluarga sendiri. Maaf untuk mama dan papa , suatu hari akan Hanif kembalikan uang yang Hanif pakai untuk membiayai perawatan orang yang Hanif tabrak tempo hari. "

Keadaan hening, kami semua tercengang . Belum sempat mama dan papa bicara, bang Hanif meninggalkan kami. Ingin ku tahan bang Hanif yang waktu itu baru menuruni anak tangga menuju pintu keluar . Tapi langkahku tertahan setelah mengingat bahwa bang Hanif akan mencari orangtuanya.
Mama dan papa merasa bersalah pada bang Hanif, bang Hanif menghilang. Entah dimana, kemana,sudah makankah dia? entahlah. aku sangat merindukannya.

1 bulan sudah bang Hanif tidak kembali pada kami. Sudahkah dia menemukan kedua orangtuanya ? Aku tidak tahu bang Hanif kapan kembali kemudian melarangku bermain dengan teman laki-laki, melarangku pergi sendirian di waktu malam, melarangku bangun kesiangan dan masih banyak lagi.

Memang, mama dan papa pernah bercerita padaku dulu menemukan bang Hanif di depan rumah tapi tidak ada siapapun saat itu hanya hujan deras dan petir menggelegar yang menambah tangisan bayi (bang Hanif) yang masih berlumuran darah sepertinya baru lahir kemudian ditinggalkan orangtuanya secara sengaja. Mama dan papa membesarkan bang Hanif layaknya anak sendiri. Sampai akhirnya aku hadir di dunia ini , mereka pun tidak pernah menganggap bang Hanif adalah orang asing.

Hari ini, 3 Februari, 23.45. "pa, sebentar lagi tanggal 4 februari tepat kita menemukan bayi abang didepan rumah 20 tahun yang lalu." Mama meneteskan air mata. Akupun menangis. Aku rindu bang Hanif. Papa memelukku yang saat itu kebetulan berkumpul di kamarku. "Pa, terbangkan lampion. Seperti tahun - tahun sebelumnya saat ulang tahun bang Hanif. " Aku bersemangat dan melepaskan pelukan papa. kuhapus air mataku. Kami menuju pantai yang waktu itu kami jogging terakhir dengan bang Hanif. Mama dan papa menyiapkan lampion sedangkan aku sibuk make a wish agar Tuhan menemukan kami dengan bang Hanif.

04 Februari , 00.00 "Tuhan, pertemukan kami dengan Hanif." Seru papa lalu disusul mama, "Kami berjanji akan menyayanginya." Karena aku tidak suka berkata pada Tuhan seperti cara mama dan papa , aku memilih diam dan memejamkan mata kemudian berdoa . "Ya Tuhan, bolehkah aku bertemu dengan abang Hanifku saat ini? jika tidak, cukup lindungilah dia . Sampaikan padanya bahwa aku sangat mencintainya." Entah sejak kapan rinduku ini berubah menjadi hal memilukan yang orang-orang sebut itu cinta. Tidak lama lampion itu kami terbangkan . Indah. Andaikan bang Hanif bersamaku saat ini. Kukatakan bahwa aku menyayanginya lebih dari perasaan seorang adik terhadap abangnya.

No comments:

Post a Comment

Terimakasih telah mengunjungi blog saya. Jangan lupa kembali. Tinggalkan alamat blog anda :)