Entahlah, dia bukan oranglain. Tapi sorot matanya menandakan bahwa dia tidak menyukaiku sejak awal bertemu. Kecemburuanku bukan tidak beralasan. Itu jelas kurasakan. Sakit.
Hujan di luar sana membuatku menggigil. Kurapatkan badanku ke tembok. Mencoba berlindung. Jam tanganku seakan berjalan sangat lambat. Ahh, mungkin hanya perasaanku saja karena sedang menunggu seseorang. Tidak ! Jarum jam itu memang tidak bergerak. Setelah kulihat beberapa kali ternyata jam itu mati. Basah. Oohh aku lupa ini bukan jam waterproof. Sial !Kedua Telapak tanganku bersatu padu . Kugesek-gesek. Mencoba meraih kehangatan. Sekitar 30 menit aku menunggunya akhirnya si kurus kerempeng itu muncul juga.
"Lama ya? Ups, maaf . Ayo naik" "Cukup membeku sih ." Kemudian aku memakai jas hujan dan duduk di jok motor belakangnya. Sepanjang perjalanan kami hanya diam. Kalau pun mau ngobrol tidak akan terdengar karena hujan begitu deras."Hei, kenapa nggak dilepas sepatumu ? " "Hah. apa?? "
Dia menepikan motornya dan berhenti. "Loh, kenapa berhenti disini ?""Ayo lepas sepatumu. Besok kan masih dipakai. "
"Masa aku nggak pakai alas apapun?""Ini pakai sandalku. " Si kurus kerempeng itu melepas sendalnya dan menaruhnya didekat kakiku. Kulepas sepatu hitamku itu dan kuterima tawarannya.
1 jam perjalanan menuju rumahku. Si kurus kerempeng itu meninggalkanku di halaman rumah. Tapi kemudian memutar balik arah , " Oh ya,, sendalku ?" . Dia menstarter motornya dan berlalu setelah aku mengucap terima kasih.Aku mengenalnya 1 tahun lalu saat perayaan ulang tahun temanku . Sampai saat ini tak banyak sikapnya yang berubah . Berubah membenciku atau pun berkata kasar padaku meski begitu comel dan lancang nya aku padanya.
Setahun kemudian si kurus kerempeng itu mengenalkan aku pada orangtuanya. Begitu aku menapakan kakiku di rumah gedong itu jabatan hangat laki-laki paruh baya menyambutku. Sudah bisa ditebak laki-laki itu adalah ayahnya. "Maa.. Ada tamu nih ma .." Laki-laki itu berulang kali memanggil istrinya yang tak lain adalah ibu si kurus kerempeng itu.Sekitar 3 menit ibu itu keluar dengan penampilan yang biasa-biasa saja dibanding rumahnya yang kemerlapannya dimana-mana .
Ibu itu tersenyum padaku dan menjabat tangan serta menanyakan namaku. Si kurus kerempeng itu tiba-tiba mendekati ibunya dan berbisik. "Ma, ini adalah Calon istriku." Ibu itu kembali menatapku ,dalam . Batinku sangat takut akan tatapan itu . Kemudian ibu itu menanyakan apa aku masih sekolah, tentu iya jawabanku. Saat itu aku masih kelas 3 SMA. Si kurus kerempeng adalah kakak kelasku. Dengan alasan tidak ingin merepotkan orangtua akhirnya dia memilih bekerja mendapatkan uang daripada harus berpayah-payah kuliah , mikir UTS maupun UAS apalagi skripsi.Singkatnya, Aku dipinang si kurus kerempeng itu 2 tahun setelah kelulusan. Jika ditanya, bahagia? Jelas. Kenapa? Aku sangat mencintai si kurus kerempeng itu dengan segala sikap dan perilaku yang tak pernah berubah dari tahun ke tahun aku mengenalnya.Jika ditanya, Sedih? Tentu. Batinku yang takut akan hal - hal yang tidak pernah aku pahami . "Hei, istriku. " si kurus kerempeng itu membuyarkan lamunanku akan ketakutan itu. Oh bukan . Reno . Ya, nama lelaki yang selalu ku panggil kurus kerempeng itu .
Kembali lagi pada kalimat Kecemburuanku bukan tidak beralasan. Itu jelas kurasakan. Sakit. Perempuan itu. Tatapan dalam itu. Bukan aku mengambilnya lalu membawa pergi begitu saja. Reno adalah satu-satunya yang kumiliki disini. Setelah ayahku menyerahkan aku padanya beberapa bulan lalu , aku ikut bersama Reno di rumah gedong yang ku sebut kemerlapannya dimana-dimana. Aku bukan wanita karir tapi hanya membantu Reno menafkahiku. Salahkah dengan hal itu? Kurasa tidak. Sekarang perempuan dan laki-laki adalah sama derajatnya perihal pekerjaan.Perempuan itu. Aku sangat takut saat Reno di luar kota. Tinggal di rumah gedong bukan keinginanku jika di dalamnya aku hanya menjadi debu yang mengotori. Tatapan itu. Perempuan itu mendekatiku yang sedang duduk di ruang tengah. "Bajumu bagus." Aku segera menebar senyum pada perempuan itu dan menghela nafas. "Bagus lagi itu loh di Butik Sheila." Masih dengan senyum yang sama tapi batinku bukan lagi takut. Penat.
Hari kedua . Reno baru saja meneleponku bahwa ia di perjalanan menuju rumah. Sungguh bahagia . Seperti pertama kali aku bertemu dengannya. Tidak ingin kuceritakan perempuan itu padanya. Kurasa hanya akan membuka luka hati Reno yang susah payah kukatupkan rapat. "Sampai mana? Nanti kopinya disana. Sudah kuseduh. Jika Reno datang berikan padanya. " Kata perempuan itu sambil menunjuk meja makan. Tanpa harus menunggu jawabanku perempuan itu pergi.
Sekali lagi kutegaskan pada diriku sendiri . Perempuan itu. Tidak akan aku ceritakan pada Reno.Detik - detik kedatangan Reno . Rencana nya akan kubuatkan omlet kesukaannya. Aku tidak sabar akan bertemu dengan Reno malam itu dan melihatnya lahap dengan omlet buatanku. "Jangan pakai yang itu. " Perempuan itu menatapku saat aku di dapur menenteng teflon hitam ditangan . "Jangan pakai yang itu juga." Menarik nafas dalam dan segera ku ganti pilihanku dengan membeli omlet saja di luar sana. Bukan memasaknya. Sekali lagi, tidak akan kuceritakan pada Reno tentang perempuan itu.
. "Sayang... Capek ya? Hemmmm ..Mandi trus makan ya. " Kulepas dasi Reno dan menatapnya, rindu. Mata Reno berkata lain. Mimik wajahnya juga lain. Apa aku berbuat kesalahan ? Ingatanku jauh melayang sejak Reno pergi keluar kota. Mencoba menelusuri hal apa yang aku perbuat. "Kamu tidak suka padanya?" Tiba-tiba Reno membuyarkan ingatanku. Aku tidak tahu apa maksudnya. Reno kembali menanyakan hal itu padaku kali ini lebih jelas dan keras. Sebelumnya Reno tidak pernah begitu. Seperti yang pernah kukatakan Sikapnya tidak berubah dari tahun ke tahun aku mengenalnya. Perempuan itu. Kembali bermain dengan skenarionya. Bukan aku merebut Reno. Tapi bukankah aku juga berhak atas kasih sayang yang diberikan Reno padaku.Reno sudah berubah sejak pulang dari luar kota. Apapun yang kulakukan adalah sebuah kesalahan. Dan fisikku adalah sebuah cela bagi perempuan itu. Pernah waktu badanku yang kurus tinggi dan sedikit bungkuk dengan kulit sawo matang ini membuatku dicibir. Kemudian Reno tidak lagi melindungiku. Ibuku melahirkan bertaruh nyawa, aku dilahirkan tidak untuk dicaci maki seperti ini. Jika bukan demi Reno. Si kurus kerempeng yang selalu ada waktu untukku. Dulu.
Kurasa Reno harus tahu bagaimana perempuan itu . Tapi.. Sampai saat ini aku tidak menemukan kunci gembok untuk mengubah pemikiranku; tidak akan kuceritakan pada Reno tentang perempuan itu. Mulutku masih tertutup rapat untuk surga Reno.
No comments:
Post a Comment
Terimakasih telah mengunjungi blog saya. Jangan lupa kembali. Tinggalkan alamat blog anda :)