Saturday, April 9, 2016

Hijrah Cinta

Hanafi terus memandangi foto gadis slengekan itu. Sore ini dia akan menemuinya di taman kota. Terdengar dari suaranya ditelepon gadis itu jutek, galak dan keras kepala. Tapi demi almarhum ayahnya yang tengah berjanji pada Om Wawan (sahabat ayah Hanafi) bahwa ketika anak-anak mereka sudah dewasa akan dijodohkan.

16.00 Taman kota

Hanafi melihat sekeliling. Setiap perempuan dipandangnya , dibandingkan dengan foto yang di tangannya. Tapi ia tidak menemukan wajah yang sama dengan foto itu. Ia pun menelepon gadis itu segera.
"Assalamualaikum, adek dimana?".
"Eh gue udah liat lu, biar gue aja yang samperin kesitu." Telepon terputus begitu saja.

Lima menit kemudian ada seorang perempuan datang menghampiri Hanafi yang sedang celingukan dibangku taman.
"Bang, lu nyari gue kan?.." .
"Astagfirulloh, anda siapa?" .
Hanafi dikagetkan dengan perempuan berpakaian ala preman. Jeans panjang sobek dimana-mana, kaos oblong tanpa lengan belum lagi rambut pirang yang membuat Hanafi tidak berhenti menggumam.Tidak salah lagi itu adalah gadis yang akan dijodohkan dengannya.

Malam ini Hanafi tidak bisa tidur gegara gadis berambut pirang itu. Dalam hatinya berbisik "Apa aku bisa merubahnya menjadi perempuan yang lebih baik seperti permohonan kedua orang tuanya?" . Hanafi menggeleng-gelengkan kepalanya kemudian memandang foto gadis itu lagi . Tersenyum, sebenarnya ia begitu mengagumi paras gadis itu. "Andaikan dirinya berhijab, pasti ..... sangatlah cantik ."

Tanggal pernikahan semakin dekat. Tidak ada satu hal positif pun yang Hanafi tahu tentang calonnya ini. Yang ia ta tahu gadis itu keras kepala. Satu hari sebelumnya Hanafi bertemu gadis itu dan gadis itu tetap tidak mau menerima perjodohan ini. Hanafi khawatir ketika hari H nanti gadis itu menolaknya mentah - mentah untuk dipinang.
"Bang , gue siap menikah sama lu demi ayah dan ibu."
Begitu isi pesan singkat dari gadis itu. "Subhanalloh..." Hanafi kemudian membalas pesan singkat gadis itu .

April , 13.00

Resepsi pernikahan Hanafi dan Hawa berlangsung hikmat dan lancar . Senyum Hanafi melebar ketika melihat istrinya berhijab seperti yang ada diangan-angannya. Hawa terlihat sangat cantik dengan kebaya putih adat jawa dan hijab yang menutupi rambut pirangnya itu.
"Dek, kamu cantik hari ini." Bisik Hanafi kepada Hawa ketika duduk dipelaminan disaksikan orang banyak.
Tapi Hawa tersenyum kecut dan acuh. Hanafi menunduk dan menghela nafas panjang.
"Bang, lu jangan ge-er ya. Gue mau nikah ama lu bukan karena gue cinta ama lu. " Bisik Hawa. "Gue itu bukan orang baik, alim , solehah bang. Jangan ngarep deh gue ini berjodoh ama lu." Sambungnya lagi.
"Setidaknya aku bisa bersanding denganmu hari ini. " Hanafi menatap Hawa dengan senyuman.

Hari pertama setelah pernikahan....

"Jangan pernah menyentuhku sedikitpun. Atau kita akan cerai. " Gertak Hawa pada suaminya . Hanafi menyeruput kopi pertama buatan Hawa yang disediakan di meja kamar.
"Baiklah. Kalau begitu aku tidur di sofa saja dek ." Kemudian beranjak pergi . Hawa membawakan bantal dan selimut untuk Hanafi tidur di sofa. Satu-dua-tiga malam sudah Hanafi tidur di sofa . Hawa menyediakan bantal dan selimut. Kopi manis , hangat di meja kamar. Selalu seperti itu.

Hingga suatu ketika..
"Bang, lebih baik carilah wanita diluar sana yang bisa memberimu keturunan. Gue kagak bisa. " Hawa menyalakan korek api dan membakar ujung rokoknya.
"Ayolah bang, gue ini kagak baik buat lu." Hawa bermain dengan kepulan kecil asap rokoknya.
"Baiklah. " Hanafi hanya menjawab singkat . "Buanglah rokokmu. Ini yang membuat kamu tidak baik. " Tanpa kata Ya dari Hawa , rokok itu sudah terjatuh dilantai karena Hanafi membuangnya. Hawa hanya bisa melongo tanpa bisa berbuat apa-apa.
"Mulai sekarang ikuti kata-kataku", kata Hanafi menatap tajam pada Hawa.
"Lu sadar ga bang, tindakan elu ini bisa jadi pemicu..", dengan tatapan yang masih sama tajam Hanafi menjawab
"Saya tidak peduli. Karena saya adalah suami kamu, mulai sekarang kamu harus mengikuti apapun kata-kata saya ", sergah Hanafi sinis memotong bantahan Hawa.
Kali ini ada yang lain pada Hanafi, Hawa tak pernah melihat Hanafi yang seperti ini. Sebelum Hawa berusaha membantahnya, Hanafi sudah menyambar bungkus rokok yang disimpan Hawa lalu melangkah keluar. Memang rumah yang mereka berdua tinggali itu bukanlah rumah yang besar, rumah salah satu milik orang tua Hanafi itu sekarang sudah menjadi milik mereka berdua. Hawa hanya bisa menatap kepergian suaminya itu dengan memikirkan sesuatu yang kuat tersembunyi dalam pria yang beberapa menit lalu menatapnya tajam. Malam setelah kejadian sore itu Hawa belum berani bicara pada Hanafi, makan malam pun dilewati mereka tanpa sepatah kata hingga "maaf", ucap Hanafi singkat melanjutkan makan malamnya tanpa menatap Hawa di hadapannya. Hawa sempat terkesiap mendengarnya, namun seketika itu juga menjawab dengan sarkastik ,
"gue nggak butuh ucapan maaf dari elu bang". Hanafi menghentikan makan malamnya, meletakkan sendok dan bersedekap serta merta menatap Hawa lekat-lekat.
"Bersyukurlah kamu karena memiliki saya sebagai suami kamu, kamu tidak akan pernah mengira apa yang akan terjadi jika saya sewaktu-waktu berubah pikiran dan bisa berbuat sesuatu di luar dugaan kamu", ujar Hanafi. Hawa menghentikan sejenak kunyahannya,
"Jadi lu ngancem gue bang ?", Hawa memberanikan diri menatap lekat-lekat mata Hanafi.
"Bisa dibilang saya bukan tipe orang yang suka mengancam, tapi jika kali ini kamu menganggapnya begitu saya tidak akan menyangkalnya", Hanafi merapatkan tubuhnya pada meja mendekatkan wajahnya pada wajah Hawa. Hawa refleks memundurkan tubuhnya terkejut atas tindakan tiba-tiba Hanafi ini. Memang akhir-akhir ini semenjak peristiwa rokok sore itu, Hanafi kerap melakukan 'tindakan-tindakan mengejutkan' tanpa sepatah kata pun. 

**

"Hawa, apa kamu yakin ingin menggugat cerai Hanafi?", Pertanyaan ibu kali ini membuat Hawa tersentuh . Keinginannya bercerai dengan Hanafi memang tidak begitu kuat tapi melihat sikap Hanafi belakangan ini Hawa menjadi takut . Hawa tidak menjawab pertanyaan ibunya ,air matanya mengalir . "Hawa, bercerai itu bukan hal yang disukai Tuhan. Pikirkan lagi nak. Ibu berharap kamu berubah pikiran." 

Sedemikian kata-kata ibunya , Hawa berubah pikiran. Hanafi tidak lagi melihat istrinya merokok, kasar kepadanya , dan membuka hijab semaunya seperti sebelumnya .  Ia begitu heran melihat banyak perubahan dalam diri Hawa.
"Bang, " katanya lembut sembari menyentuh tangan Hanafi. Tapi Hanafi malah takut jika tiba-tiba Hawa menamparnya karena sikapnya beberapa hari ini. 
"Apakah abang tau kalau Hawa pernah berfikir ingin menceraikan abang?"
"Astaghfirulloh, dek. Benarkah? Maafkan sikap saya akhir-akhir ini, saya hanya ingin ...." .
"Stttt..", telunjuk hawa sudah mendarat di depan mulut suaminya yang ketakutan itu.
"Hawa yang minta maaf bang, sejauh ini Hawa bukan istri yang baik buat abang. Hawa kasar sama abang dan Hawa menyesal pernah berfikir ingin bercerai dari abang. " , Hawa menunduk malu di hadapan Hanafi.
Tanpa sepatah kata Hanafi mendekapkan kepala istrinya itu didadanya. Ia tidak pernah menyangka Hawa akan berubah menjadi wanita lebih baik.
"Dan Hawa pengen bilang bang, " , Tiba-tiba Hawa melepaskan dekapan Hanafi .
"Kenapa dek,?" Tanya Hanafi kembali takut. 
"Hawa cinta sama abang." Kata Hawa bersemangat . "Saya juga mencintai kamu."
Hanafi tersenyum manis dan kembali memeluk hangat istrinya   .

Monday, February 22, 2016

Sepasang Bola Mata

Pacitan, 23 Februari.
"Bagaimana? Ini sudah hampir dimulai acaranya tapi Alfa belum juga datang.." Pak Sadam mulai bingung dan panik . Fela juga mulai panik ketika pasangan peran teaternya itu belum terlihat batang hidungnya. "Sudah begini saja pak, Bima yang menggantikan peran Alfa." Usul salah satu siswa. Dengan wajah mendukung dan kepiawaiannya memainkan peran apapun di teater akhirnya Bima menjadi pilihan alternatif.

Ulang tahun SMK N 2 Pacitan itu berlangsung lancar dan meriah. Hari itu Alfa benar tidak bisa datang. Tapi ntah apa alasannya. "Fel.. Pacar macam apa tuh si Alfa. Yang pacarnya Alfa kan lo kok Alfa ngabarinnya lewat Dean ?" Stefani layaknya kompor meleduk . Panas. Kurang lebih seperti itulah hati Fela saat ini.

Tak ayal lagi, Alfa terlihat sangat dekat dengan Dean. Fela melihat itu semua dengan teman-temannya. "Tuh kan fel, apa gue bilang?"
"Bener deh, eenek banget gue lihat mereka berdua gitu."
"Ihhh .. Apaaan pakai elus-elus rambut segala. Emang playboy tuh Alfa."
Fela tidak berkomentar apapun. Memang sejak acara teater itu Alfa tidak ada komunikasi dengan Fela. Ada perasaan tidak enak di hati Fela. Kemudian dia menghubungi Alfa. Apa yang didapat? Nomor yang anda tuju sedang sibuk. Cobalah beberapa saat lagi
Sayu diwajah cantik Fela mulai terlihat. Benarkah cowok yang dikenalnya belum lama itu meninggalkannya begitu saja.

Fela mencoba mencari alamat rumah Alfa. Jl. Ahmad yani no. 08
"Assalamualaikum" Fela mengucap salam dengan lantang. Degup jantungnya tak beraturan. Apa yang akan dia lakukan di rumah yang tak begitu besar tapi tinggi itu. Setelah beberapa kali mengucap salam , keluar seorang perempuan bertubuh kecil tinggi berambut lurus sebahu mengenakan jeans selutut dan kaos oblong . "Loh.. Kak Fela. Masuk kak"
Dean. Yaah, tidak salah lihat lagi itu Dean. Kenapa cewek ini lagi ?.Fela menolak tawaran Dean untuk masuk kedalam rumah itu. "Emh nggak usah yan. Alfa nya ada?"
"Ada kok kak, tadi sama aku di... "
"Oh ya udah . Aku balik ya. Makasih." Setelah melempar senyum hampa kemudian Fela pergi. Dean tercengang di depan pintu lalu masuk dan menutup pintu itu.

"Tuh kan Fel, udah jelas. Lo kerumahnya tapi yang keluar malah Dean. Ngapain coba dia dirumah Alfa??"
"Beeehhh, itu mah udah keterlaluan Fel. "
Tapi hati Fela berkata lain dengan pendapat teman-temannya.
"Alfa... " Tiba-tiba Fela berlari menghampiri Alfa yang sedang berjalan di depan kantin.
"Kenapa?"
"Al.. Kamu marah sama aku?"
Alfa hanya tersenyum. "Eh dek, tunggu. " Alfa meninggalkan Fela dan menyusul Dean di bangku taman. Tanpa pikir panjang , Fela mengikuti Alfa duduk dibangku bersama Dean dan meluapkan kekesalannya .
"Oh.. Jadi ini alasan kamu menghindari aku. "
Fela berkacak pinggang. "kak, kak Fela salah paham. Kak Alfa ini abangku. "
"Kok, kok bisa . " Aduh malu nih gue batin Fela mulai ikut campur.
"Iya kak. Tapi sekarang kak Alfa nggak mengenal siapapun kecuali keluarganya. " Dean menunduk.
"Siapa ini dek ? Dari tadi ngejar aku terus." Alfa menatap Fela kemudian menghampirinya.
"Kenapa De, Alfa jadi seperti ini?"
"Kata Dokter Kak Alfa Amnesia semenjak kecelakaan waktu itu. Makanya kak Alfa nggak bisa datang di acara itu."
"Al... Kamu masih inget aku kan? Al..aku Fe-la. Fela Al, yang waktu itu kamu nembak aku buat jadi pacar kamu. " Fela mengguncang-guncang bahu Alfa sambil memaksa ingatan Alfa kembali.
"Fela?, Dek siapa sih dia?" Alfa berpaling dan mendekat ke Dean .

Malam ini Alfa susah memejamkan mata. Ingatannya terus pada gadis ngeyel itu . Siapa dia Hatinya terus bertanya seperti itu. Tiba-tiba Dean masuk kamarnya dan memberikan sebuah bingkai kacamata . Dean terus memaksanya untuk mengingat tentang bingkai kacamata itu. Hingga akhirnya Dean memakainya.
"Fela. Aku mengingatnya dek, iya."

"Fela..tunggu." Alfa mengejar Fela yang baru memasuki kelas. "Alfa, kamu ingat aku? " Senyum Fela mengembang bak kue diberi backing powder.
"Bukankah kamu ingat kalau sepasang bola mata akan melihat apapun secara bersama. Seperti halnya kita. Akan terus sama-sama selama Tuhan mentakdirkan. "
"Kacamata itu masih? " Fela tertawa . 1 tahun lalu kacamata tanpa kaca itu adalah saksi first date mereka. Setiap mengingat kejadian waktu itu mereka tertawa. Kacamata itu baru dibeli dari sebuah toko. Tapi setelah dipakai beberapa detik kacanya jatuh dengan sendirinya. Mereka menganggap itu takdir Tuhan. Biarkan kita saling melihat sepasang bola mata yang tulus menyayangi.

Thursday, February 18, 2016

Pudarnya Cinta Reno

Perempuan . Makhluk Tuhan paling ribet. Cerewet. Tapi tidak sedikit juga yang pendiam. Anggun. Perihal mudah dan sulitnya menjadi seorang perempuan tergantung dari pribadi masing-masing. Tidak tanggung-tanggung pula jika gender sebagai perempuan tidak membanggakan maka ia ganti gendernya menjadi seorang laki-laki. Tidak kah hal itu lebih mulia dari Perempuan kedua ?

Entahlah, dia bukan oranglain. Tapi sorot matanya menandakan bahwa dia tidak menyukaiku sejak awal bertemu. Kecemburuanku bukan tidak beralasan. Itu jelas kurasakan. Sakit.

Hujan di luar sana membuatku menggigil. Kurapatkan badanku ke tembok. Mencoba berlindung. Jam tanganku seakan berjalan sangat lambat. Ahh, mungkin hanya perasaanku saja karena sedang menunggu seseorang. Tidak ! Jarum jam itu memang tidak bergerak. Setelah kulihat beberapa kali ternyata jam itu mati. Basah. Oohh aku lupa ini bukan jam waterproof. Sial !

Kedua Telapak tanganku bersatu padu . Kugesek-gesek. Mencoba meraih kehangatan. Sekitar 30 menit aku menunggunya akhirnya si kurus kerempeng itu muncul juga.

"Lama ya? Ups, maaf . Ayo naik"

"Cukup membeku sih ." Kemudian aku memakai jas hujan dan duduk di jok motor belakangnya. Sepanjang perjalanan kami hanya diam. Kalau pun mau ngobrol tidak akan terdengar karena hujan begitu deras.

"Hei, kenapa nggak dilepas sepatumu ? " "Hah. apa?? "

Dia menepikan motornya dan berhenti. "Loh, kenapa berhenti disini ?"

"Ayo lepas sepatumu. Besok kan masih dipakai. "

"Masa aku nggak pakai alas apapun?"

"Ini pakai sandalku. " Si kurus kerempeng itu melepas sendalnya dan menaruhnya didekat kakiku. Kulepas sepatu hitamku itu dan kuterima tawarannya.

1 jam perjalanan menuju rumahku. Si kurus kerempeng itu meninggalkanku di halaman rumah. Tapi kemudian memutar balik arah , " Oh ya,, sendalku ?" . Dia menstarter motornya dan berlalu setelah aku mengucap terima kasih.

Aku mengenalnya 1 tahun lalu saat perayaan ulang tahun temanku . Sampai saat ini tak banyak sikapnya yang berubah . Berubah membenciku atau pun berkata kasar padaku meski begitu comel dan lancang nya aku padanya.

Setahun kemudian si kurus kerempeng itu mengenalkan aku pada orangtuanya. Begitu aku menapakan kakiku di rumah gedong itu jabatan hangat laki-laki paruh baya menyambutku. Sudah bisa ditebak laki-laki itu adalah ayahnya. "Maa.. Ada tamu nih ma .." Laki-laki itu berulang kali memanggil istrinya yang tak lain adalah ibu si kurus kerempeng itu.

Sekitar 3 menit ibu itu keluar dengan penampilan yang biasa-biasa saja dibanding rumahnya yang kemerlapannya dimana-mana .

Ibu itu tersenyum padaku dan menjabat tangan serta menanyakan namaku. Si kurus kerempeng itu tiba-tiba mendekati ibunya dan berbisik. "Ma, ini adalah Calon istriku." Ibu itu kembali menatapku ,dalam . Batinku sangat takut akan tatapan itu . Kemudian ibu itu menanyakan apa aku masih sekolah, tentu iya jawabanku. Saat itu aku masih kelas 3 SMA. Si kurus kerempeng adalah kakak kelasku. Dengan alasan tidak ingin merepotkan orangtua akhirnya dia memilih bekerja mendapatkan uang daripada harus berpayah-payah kuliah , mikir UTS maupun UAS apalagi skripsi.

Singkatnya, Aku dipinang si kurus kerempeng itu 2 tahun setelah kelulusan. Jika ditanya, bahagia? Jelas. Kenapa? Aku sangat mencintai si kurus kerempeng itu dengan segala sikap dan perilaku yang tak pernah berubah dari tahun ke tahun aku mengenalnya.Jika ditanya, Sedih? Tentu. Batinku yang takut akan hal - hal yang tidak pernah aku pahami . "Hei, istriku. " si kurus kerempeng itu membuyarkan lamunanku akan ketakutan itu. Oh bukan . Reno . Ya, nama lelaki yang selalu ku panggil kurus kerempeng itu .

Kembali lagi pada kalimat Kecemburuanku bukan tidak beralasan. Itu jelas kurasakan. Sakit. Perempuan itu. Tatapan dalam itu. Bukan aku mengambilnya lalu membawa pergi begitu saja. Reno adalah satu-satunya yang kumiliki disini. Setelah ayahku menyerahkan aku padanya beberapa bulan lalu , aku ikut bersama Reno di rumah gedong yang ku sebut kemerlapannya dimana-dimana. Aku bukan wanita karir tapi hanya membantu Reno menafkahiku. Salahkah dengan hal itu? Kurasa tidak. Sekarang perempuan dan laki-laki adalah sama derajatnya perihal pekerjaan.

Perempuan itu. Aku sangat takut saat Reno di luar kota. Tinggal di rumah gedong bukan keinginanku jika di dalamnya aku hanya menjadi debu yang mengotori. Tatapan itu. Perempuan itu mendekatiku yang sedang duduk di ruang tengah. "Bajumu bagus." Aku segera menebar senyum pada perempuan itu dan menghela nafas. "Bagus lagi itu loh di Butik Sheila." Masih dengan senyum yang sama tapi batinku bukan lagi takut. Penat.

Hari kedua . Reno baru saja meneleponku bahwa ia di perjalanan menuju rumah. Sungguh bahagia . Seperti pertama kali aku bertemu dengannya. Tidak ingin kuceritakan perempuan itu padanya. Kurasa hanya akan membuka luka hati Reno yang susah payah kukatupkan rapat. "Sampai mana? Nanti kopinya disana. Sudah kuseduh. Jika Reno datang berikan padanya. " Kata perempuan itu sambil menunjuk meja makan. Tanpa harus menunggu jawabanku perempuan itu pergi.

Sekali lagi kutegaskan pada diriku sendiri . Perempuan itu. Tidak akan aku ceritakan pada Reno.

Detik - detik kedatangan Reno . Rencana nya akan kubuatkan omlet kesukaannya. Aku tidak sabar akan bertemu dengan Reno malam itu dan melihatnya lahap dengan omlet buatanku. "Jangan pakai yang itu. " Perempuan itu menatapku saat aku di dapur menenteng teflon hitam ditangan . "Jangan pakai yang itu juga." Menarik nafas dalam dan segera ku ganti pilihanku dengan membeli omlet saja di luar sana. Bukan memasaknya. Sekali lagi, tidak akan kuceritakan pada Reno tentang perempuan itu.

. "Sayang... Capek ya? Hemmmm ..Mandi trus makan ya. " Kulepas dasi Reno dan menatapnya, rindu. Mata Reno berkata lain. Mimik wajahnya juga lain. Apa aku berbuat kesalahan ? Ingatanku jauh melayang sejak Reno pergi keluar kota. Mencoba menelusuri hal apa yang aku perbuat. "Kamu tidak suka padanya?" Tiba-tiba Reno membuyarkan ingatanku. Aku tidak tahu apa maksudnya. Reno kembali menanyakan hal itu padaku kali ini lebih jelas dan keras. Sebelumnya Reno tidak pernah begitu. Seperti yang pernah kukatakan Sikapnya tidak berubah dari tahun ke tahun aku mengenalnya. Perempuan itu. Kembali bermain dengan skenarionya. Bukan aku merebut Reno. Tapi bukankah aku juga berhak atas kasih sayang yang diberikan Reno padaku.

Reno sudah berubah sejak pulang dari luar kota. Apapun yang kulakukan adalah sebuah kesalahan. Dan fisikku adalah sebuah cela bagi perempuan itu. Pernah waktu badanku yang kurus tinggi dan sedikit bungkuk dengan kulit sawo matang ini membuatku dicibir. Kemudian Reno tidak lagi melindungiku. Ibuku melahirkan bertaruh nyawa, aku dilahirkan tidak untuk dicaci maki seperti ini. Jika bukan demi Reno. Si kurus kerempeng yang selalu ada waktu untukku. Dulu.

Kurasa Reno harus tahu bagaimana perempuan itu . Tapi.. Sampai saat ini aku tidak menemukan kunci gembok untuk mengubah pemikiranku; tidak akan kuceritakan pada Reno tentang perempuan itu. Mulutku masih tertutup rapat untuk surga Reno.

Friday, February 12, 2016

Baiknya Begini

"Sudah cukup han, pikirlah apa yang membuatku seperti ini. Pikir !" Aku berdiam diri menatap langit-langit yang seakan ikut menghakimiku. "Berkali-kali aku katakan padamu , tak usah menghubungi wanitamu itu lagi." Sesekali isakan Emmy menghujamku. "Tidakkah kamu ingin melihatku bahagia tanpa harus mengingat wanitamu itu." Ini kali kelima Emmy membuang tisu bekas hujan dimatanya . "Han, kenapa kamu diam saja. Katakan , alasan apa lagi kamu menghubungi wanitamu itu? Apa Han?" Emmy mengguncang-guncang tubuhku dengan menarik kerah kemejaku. Aku hanya diam. Apa yang akan kukatakan pada wanita didepanku. Wanita yang ku kenal selama 6 tahun. Wanita yang ku nikahi 1 tahun.

Emmy terlelap dimeja kerjanya. Kubopong badannya yang tinggi ideal itu ke kamar. Sialnya saat aku hendak memasuki pintu kamar kepala Emmy terpentok tembok dan Emmy terbangun. "Han, sudah pulang? Apa-apaan membopongku seperti ini?"

"Oh, maafkan aku Em. Aku tidak berniat membangunkanmu . Maaf kepalamu terpentok tembok. Maafkan aku." Kulepaskan Emmy dari boponganku. Kuusap rambutnya yang hanya sepundak itu. "Naskahku belum selesai, kalau mau tidur duluan aja. Kopi mu di ruang makan. " Emmy kembali ke meja kerjanya dan jemarinya kembali bermain di atas keyboard.

"Han, aku tidak tau sampai kapan kamu akan belajar melupakan wanitamu. Aku tidak bisa menerima ini. " Sudah biasa aku melihat pesan semacam ini di perabotan rumah . Tiga minggu ini Emmy tidak bicara padaku. Memang, aku tidak bisa menjelaskan apapun tentang wanita itu. Emmy baik. Mencintaiku tulus. Bahkan di sela kesibukannya sebagai penulis , Emmy masih melayaniku layakknya istri teladan. Tapi untuk mencintainya hati ini begitu tipis . Rentan. Bukan mengkhianati ketulusan Emmy. Bukan juga karena Popi. Wanita yang kucintai sebelum Emmy. Trauma di khianati yang membuatku seperti ini. Aku pernah sangat mencintai wanita. Sangat mencintainya . Tapi wanita itu bermain di belakangku dengan pria lain. Sejak saat itu aku merentangkan jarak dengan wanita manapun.

"Han, Aku pergi sementara waktu. Ada revisi novel yang harus ku selesaikan dengan mbak Ambar. Bekalmu ada dimeja makan . Kopimu sudah kusiapkan tinggal menyeduhnya saja." Kudapati tulisan tangan Emmy yang ditempel di pintu kulkas. Ya Tuhan, mimpi apa Emmy ku ini mendapatkan suami seburuk aku.

"Emm, aku ingin bicara. Bukan membaca. Kamu bisa menulis untuk pembacamu diluar sana. Tapi aku bukan mereka. Aku suamimu." Kududukan Emmy di tepi kasur.

"Lalu.." Kalimat Emmy menggantung dengan dagunya mendongak kearahku. "Wanita itu. Kamu ingat novelmu Baikknya Begini ? "

"Ya.. Tentu saja. Lalu ?"

"Popi pengagum rahasiamu. Pembaca setia novelmu. Saat itu dia menghubungiku ingin bertemu langsung denganmu tapi tidak berani. "

"Kenapa tidak berani? Apa karena dia masih wanitamu dan aku istrimu..?" Aku menelan ludah. Begitu galakknya wanita yang kunikahi. Bahkan aku baru sadar matanya melototiku.

"Bukan Em, dia takut dengan galakmu. Karena dia pernah mendengar amukanmu saat aku meneleponnya tempo hari . " Kulihat Emmy sedikit mengatur nafas. "Aku bukan tidak mencintaimu . Atau masih mencintai Popi. "

"Lalu ap han, kenapa kamu memberi teka teki seperti ini padaku?" Emmy kembali memandangku melotot.

"Aku trauma Em. Aku trauma di khianati . Meski kamu sedikitpun tidak pernah melukaiku. Bukankah seseorang terkadang bisa memaafkan tapi sulit melupakan dan menyembuhkan luka menganga yang ditorehkan oleh pengkhiantan itu ? Coba kamu bayangkan Em. " Kuraih tangan Emmy , kugenggam sekuat -kuatnya. Kulihat pekatnya mata istriku ini.

"Han, apa kamu tidak percaya padaku selama ini?" Pekat itu kemudian berubah menjadi butiran butiran kecil membasahi pipi Emmy.

"Bukan. Bukan Em. Tapi sulit ku jelaskan padamu. Apa sejauh ini kamu merasakan aku tidak mencintaimu ? Apa sejauh menikahimu aku mengkhianatimu? apa aku menyakitimu Em? " Emmy terdiam . Tersungkur di lantai. Butiran butiran itu bukan lagi di pipi. "Em, aku mencintaimu. Jangan lagi salah paham . Popi tidak lebih hebat darimu yang mampu menjaga hati dan kehormatannya untuk laki-laki yang mencintainya. " Kudekapkan wajah istriku itu di pelukanku.

"Maafkan aku Han, aku tidak cukup pintar menahan ego dan emosiku . Aku tidak bisa menempatkan cemburu yang seharusnya. Maafkan aku Han. "

Emmy memelukku erat masih dengan tangisnya. Segera ku cair kan suasana haru itu dengan menggelitik pinggangnya yang kurasa tak lebih besar dari diameter galon di ruang tengah milik kami . Hehee....

Monday, February 8, 2016

Hidup Selucu Banyolan Komedian

Terkadang hidup itu selucu saat trio warkop atau komedian lain membanyol untuk permirsanya. :D

Hemhh... Mulai dari lingkup keluarga, teman, kolega kerja sampai orang lain yang bukan siapa-siapa kita.

Hidup terlalu singkat untuk mengamati bacotan orang lain tentang kita. Haha, coba guys ingat wajah mereka satu per satu yang pernah mengomentari hidup kamu. Pengen nampol? Gemes? kesel?

Upss, jangan maen kasar ya kak. Hihii .. Kembali ke kalimat awal ya. Hidup itu selucu banyolan para komedian di TV.

Ada hal positif dibalik itu semua ya guys, contohnya nih:

- Dengan orang lain mengamati hidup kamu artinya hidup kamu jauh lebih menarik dibanding mereka

-kamu adalah inspirasi/motivator mereka.

-Kamu memberi lapangan pekerjaan buat mereka yang tidak punya /kurang pekerjaan. Hahaa . Tuh kan malah beramal.

Apa ya, menurut ane orang kaya gitu emang ngeselin sih. Tapi kalo kita tau banyak banget hal positif dibalik itu ngga terasa berat kok menghadapi orang-orang seperti mereka. Hidup itu selucu banyolan para komedian . Yapps.. Buktinya kita selalu tertawa bahkan sampai menangis menghadapi persoalan hidup. Persoalan hidup? Wattchaauuuu....

Kayaknya berat ya guys kalo ngmongin yang satu itu. Heehee. Apa dulu nih persoalannya. Soal jadi gampang kalo ada uang. Eitsss malah kemana-mana nih pembahasannya. Yang jelas jangan galau ya guys kalo ngalamin hal kaya yang ane ceritain diatas. Ambil hikmahnya aja hahaa...

Hidup terlalu singkat buat dengerin bacotan orang lain yang nggak penting.Toh, bukan mereka yang kasih makan kita. Mereka juga bukan mesin atm ketika jari jemari menekan kode pin langsung keluar uang 50-100 ribuan. Ingat guys. Mereka bukan siapa-siapa. Kalau kamu ladenin mereka bakal habis tuh air liur , berbusa ya berbusa deh tuh mulut.

Tuesday, February 2, 2016

Lampion Tanggal 4 Februari

"1,2,3..!" Bang Hanif memberi aba-aba dan kami mulai berlari . Ya, setiap akhir pekan keluarga kami selalu menyempatkan waktu untuk jogging bersama . Kali ini pantai adalah destinasi kami setelah sebelumnya memilih di taman komplek .

"Ahhh, sudahlah bang Rani capek. Baso yukk ! ". Bang Hanif menghentikan langkahnya begitupun dengan mama dan papa. Tiga pasang mata menatapku sambil tersenyum. "Ayolah Ran, kamu paling payah diantara kami hahaa !". Bang Hanif mengejekku. Melihatku sangat lelah mama dan papa mengajak kami pulang.

Keluarga kami sangat kompak, harmonis dan seru. Mama yang bawel tapi penyayang, papa yang humoris, abang Hanif yang perhatian tapi posesif dan aku cengeng. Sampai hari itu terjadi .

Kutanggalkan seragam sekolahku. Lalu menghambur ke kamar bang Hanif. "Bang, mama sama papa kemana?" . Bang Hanif tidak menjawab. Kalut. "Biar pa, biar mereka dengar . Sudah puluhan juta Hanif menghambur-hamburkan uang kita. Untuk apa? hal yang tidak jelas."

Itu suara mama, ya aku sangat yakin. Kutinggalkan bang Hanif sendiri dikamarnya. "Tapi ma, bukannya kita sudah punya perjanjian untuk memperlakukan Hanif seperti anak kita sendiri?! sudahlah."

Apa? perjanjian? anak kita sendiri? Begitu hatiku bertanya pada diriku sendiri. "Sekarang kamu tahu Ran, aku ini bukan abang kandungmu. Biarkan aku pergi. "

Tiba-tiba bang Hanif berdiri di belakangku tepat aku mendengar pembicaraan mama dan papa dibalik pintu kamar mereka.

Bang Hanif memang badung, meminta uang untuk keperluan kampus ke mama atau papa tapi dosennya selalu menelepon mama bahwa bang Hanif sudah lama tidak masuk. "Tapi bang, Rani sudah menyayangi bang Hanif seperti abang kandung Rani." Tak kuat membendung hujan , pecah . Sampai mama dan papa mendengar percakapan kami lalu membuka pintu kamar mereka . Kulihat mendung pekat dimata mama, sebentar lagi akan turun hujan. Tapi kulihat juga wajah kesal mama terhadap bang Hanif . "Akan kucari orangtua kandungku, trimakasih ma, pa dan Rani yang sudah menyayangi Hanif seperti keluarga sendiri. Maaf untuk mama dan papa , suatu hari akan Hanif kembalikan uang yang Hanif pakai untuk membiayai perawatan orang yang Hanif tabrak tempo hari. "

Keadaan hening, kami semua tercengang . Belum sempat mama dan papa bicara, bang Hanif meninggalkan kami. Ingin ku tahan bang Hanif yang waktu itu baru menuruni anak tangga menuju pintu keluar . Tapi langkahku tertahan setelah mengingat bahwa bang Hanif akan mencari orangtuanya.
Mama dan papa merasa bersalah pada bang Hanif, bang Hanif menghilang. Entah dimana, kemana,sudah makankah dia? entahlah. aku sangat merindukannya.

1 bulan sudah bang Hanif tidak kembali pada kami. Sudahkah dia menemukan kedua orangtuanya ? Aku tidak tahu bang Hanif kapan kembali kemudian melarangku bermain dengan teman laki-laki, melarangku pergi sendirian di waktu malam, melarangku bangun kesiangan dan masih banyak lagi.

Memang, mama dan papa pernah bercerita padaku dulu menemukan bang Hanif di depan rumah tapi tidak ada siapapun saat itu hanya hujan deras dan petir menggelegar yang menambah tangisan bayi (bang Hanif) yang masih berlumuran darah sepertinya baru lahir kemudian ditinggalkan orangtuanya secara sengaja. Mama dan papa membesarkan bang Hanif layaknya anak sendiri. Sampai akhirnya aku hadir di dunia ini , mereka pun tidak pernah menganggap bang Hanif adalah orang asing.

Hari ini, 3 Februari, 23.45. "pa, sebentar lagi tanggal 4 februari tepat kita menemukan bayi abang didepan rumah 20 tahun yang lalu." Mama meneteskan air mata. Akupun menangis. Aku rindu bang Hanif. Papa memelukku yang saat itu kebetulan berkumpul di kamarku. "Pa, terbangkan lampion. Seperti tahun - tahun sebelumnya saat ulang tahun bang Hanif. " Aku bersemangat dan melepaskan pelukan papa. kuhapus air mataku. Kami menuju pantai yang waktu itu kami jogging terakhir dengan bang Hanif. Mama dan papa menyiapkan lampion sedangkan aku sibuk make a wish agar Tuhan menemukan kami dengan bang Hanif.

04 Februari , 00.00 "Tuhan, pertemukan kami dengan Hanif." Seru papa lalu disusul mama, "Kami berjanji akan menyayanginya." Karena aku tidak suka berkata pada Tuhan seperti cara mama dan papa , aku memilih diam dan memejamkan mata kemudian berdoa . "Ya Tuhan, bolehkah aku bertemu dengan abang Hanifku saat ini? jika tidak, cukup lindungilah dia . Sampaikan padanya bahwa aku sangat mencintainya." Entah sejak kapan rinduku ini berubah menjadi hal memilukan yang orang-orang sebut itu cinta. Tidak lama lampion itu kami terbangkan . Indah. Andaikan bang Hanif bersamaku saat ini. Kukatakan bahwa aku menyayanginya lebih dari perasaan seorang adik terhadap abangnya.

Wednesday, January 13, 2016

Tiga Serangkai

"Gila..! " Asri mengumpat seketika bajunya basah akibat hujan mengguyur sekujur tubuhnya. Sebenarnya bukan hanya Asri , aku dan Tia juga basah . Tapi diantara kami hanya Asri lah yang suka mengumpat begitu. Kami bertiga berteduh di Halte sambil menunggu bus . Tujuan kami setelah mengerjakan tugas kelompok dirumah Aira , kami akan pulang kerumah masing -masing. Tapi tidak dengan Tia, aku dengar kekasihnya dirawat di RS Mulia dan Tia akan kesana .

"segera naik mbk , hujannya semakin deras ." Kenek bus itu menjejal-jejalkan penumpangnya supaya pintu bus bisa ditutup. Saat itu bus berjalan lambat , hujan yang deras membuat pandangan pak sopir terbatas.

"Eh ta, temenin yuk ke RS Mulia. " Tia menyodok lenganku dan berbisik ditengah riuhnya penumpang.

"Aduh ya, Sorry aku ada janji sama mama habis ini. Tuh sama Asri aja. "

"Aaaaaaa... " Tiba-tiba semua penumpang spontan teriak . Bus mengerem mendadak, ada pohon yang tumbang akibat hujan disertai angin barusan. Penumpang segera turun dan meninjau keadaan diluar bus. Sesaat kemudian mereka masuk bus lagi karena keadaan aman terkendali dan hujan mulai reda, bus melaju cepat .

Satu persatu dari kami turun setelah sampai dijalan menuju rumah.

Tapi ketika giliranku turun ,Tia menarik tanganku dan duduk dibangku yang sudah kosong. Sekarang tinggal beberapa penumpang saja jadi longgar untuk duduk bahkan kenek bus tertidur di bangku paling belakang. Aku tahu Tia pasti tidak mendengar penjelasanku tadi kalau aku tidak bisa menemaninya. Tapi sudahlah, toh kalaupun mau turun bus sudah lewat jauh dari rumah.

Akhirnya kami berdua turun dari bus dan masuk ke RS Mulia dengan pakaian yang setengah basah .

"Kreett.." Tia membuka pintu kamar rawat Faro. Tidak ada siapa-siapa kecuali Faro yang tertidur dengan selimut khas RS.

"Ohh,hai ." Faro terbangun dan menyapa kami. "Sudah lama ?"

"Belum . Kita baru aja datang " Lalu Tia mendekat diranjang Faro dan memegang tangannya.

"Ahh kurang ajar si Tia , aku jadi obat nyamuk doang disini." Gumamku lirih dan berpaling dari mereka.

"Oh ya Faro, kenalin itu Tita yang sering aku ceritain ke kamu itu loh"

"Busett dah, si Tia cerita apaan ya ke Faro .?!" Aku berasa jadi bodoh seketika .

"Hai Ta, kok jadi bengong gitu ?" Faro menyapaku dan tersenyum

"Ohh hai , iya ini-apa namanya -emmh kedinginan .iya kedinginan . Gara-gara kehujanan tadi sama Tia. " Aku jadi gugup dadakan melihat senyuman Faro.

Sekitar 30 menit kami menjenguk Faro dan kemudian pulang. Semenjak kejadian itu aku jadi berangan-angan ingin punya kekasih . Maklum aku Jones yang kurang beruntung buktinya sampai 4 tahun belum ada tanda-tanda mau dapat jodoh .

Aku , Asri dan Tia adalah tiga serangkai Jones . Tapi Tia sudah kami keluarkan dari grup itu sejak 3 minggu yang lalu Faro diterima Tia sebagai kekasihnya. Dengan begitu bukan berarti kami sudah tidak bersahabat.

"Ta, buka pintunya dong aku didepan rumah kamu nih ." Kutaruh ponselku dan aku berjalan menuju ruang tamu. Kubuka pintu, Tia kusuruh masuk dan duduk.

" Kenapa malem-malem gini kesini ? Tumben amat. "

"Hehee, Tolongin dong Ta.

"pasti deh ada maunya , Kenapa lagi? "

"iya , hehe. Bantuin aku putus dari Faro."

"Glekkkk..." Reflek aku menutup pintu dan mendekati Tia ."Serius ?? .....emhh maksudku kamu Serius jadi jones lagi . Kenapa?" Kupertegas pertanyaanku.

"Iya Ta, aku serius. Sebenernya aku gak suka sama Faro. Waktu itu chating sama Arif dan ternyata yang balas Faro tapi pakai akunnya Arif. Aku sukanya sama Arif tapi Faro salah paham mungkin dikiranya aku sukanya sama dia padahal bukan. Arif nembak aku seminggu sebelum Faro nembak aku. ". Keadaan hening seketika. Aku mencoba mencerna cerita Tia yang temponya tak beraturan itu.

"Kemudian Faro menembakku dan Arif menyuruhku menerimanya dengan alasan tidak enak hati dan takut menyinggung perasaan Faro .Secara Faro dan Arif adalah sahabat. Arif tidak ingin bertengkar dengan Faro hanya karena cewek."

"Hmmmmhh.." aku bergumam dan menutup mulut Tia dengan telapak tanganku. "Jadi , Selama ini kamu menduakan Faro? "

"Bukan gitu Ta, bahkan aku sempat berfikir menjodohkan kamu sama Faro .Hiihi " Tia nyengir sambil menggodaku

"Kok aku? "

"Gak tau , Sepertinya kamu klik loh sama Faro " Tia menggodaku lagi.

"Tapi ya, aku gak mau bantuin kamu. Lagian kamu ada-ada aja . Gak mau ah". "Ahh ya udah , aku pamit aja kalo gitu ta ."

Jauh hari sebelum Tia datang kerumah dan minta tolong padaku ternyata dia sudah membuat masalah dengan Faro supaya punya alasan untuk putus. Dan kudengar dari cerita Asri , pagi ini Tia sudah putus dari Faro. Hari kelima setelah putus Faro meneleponku, "Hallo Ta, Tadi Tia pulang sekolah bareng kamu gak? tolong dong sms Tia udah sampai rumah belum ya , aku cemas ."

"Iya ro, coba aku sms nanti ya. " . "Jangan nanti dong , sekarang. Oke ." Lalu Faro menutup telepon . Sebenarnya saat itu aku berharap Faro meneleponku untuk menanyakan keadaanku yang sedikit tumbang karena flu. Tapi kenyataannya Faro masih belum bisa Move On dari Tia.

----- "Ta, aku putus sama Arif. Ternyata Faro yang terbaik." Tia datang lagi kerumah dan bercerita . Kebetulan waktu itu Asri juga lagi ada dirumahku . "ya, Apaan sih kamu tuh? Dulu milih Arif daripada Faro, sekarang giliran Faro deket sama Tita kamu malah bilang gini. Labil !" Asri naik pitam dengar cerita Tia yang Plin plan itu. Aku hanya diam. Memang sejak Tia memutuskan Faro , dia sering meneleponku awalnya menanyakan Tia dan semakin kesini kami semakin dekat bukan lagi membahas soal Tia tapi kedekatan kami.

"Ta, kalian belum jadian kan ?" Tia menepuk jidatku membuat lamunanku buyar.

"Be-belum sih. "

"Tapi bentar lagi mereka jadian kok, kan mereka serasi . Ya kan Ta?" Asri memotong pembicaraanku dengan Tia.

"Tita aja bilang belum kok, pokoknya besok aku harus ketemu Faro."

"Eh, mau ngapain ?"

"Minta balikan . Ya udah aku pulang ya girls .sampai ketemu disekolah."

"Ya,Tia gak punya perasaan banget sih . " Asri setengah berteriak karena Tia sudah beranjak dan menutup pintu kamarku . "Yang sabar ya Ta, Tia tuh masih kekanakan banget. " . " Yaelah As, kan aku juga bukan siapa-siapanya Faro. Aku Rapopo As." Aku berlagak tegar dan tertawa didepan Asri.

Semenjak malam itu Tia jarang kerumahku bahkan hampir tidak pernah. "Kringgg.." ponselku berdering. Faro meneleponku; "Hai Ta, bisa ketemu di Light Cafe gak? Sekarang . "

"Iya ro, bisa ."

Kulihat disekeliling parkiran Cafe tidak ada motornya Faro. Tiba tiba pundakku ditepuk seseorang dari belakang ,"Ta, ngapain disini ?Ayo masuk . Aku nunggu dari tadi." Faro terlihat ganteng banget dengan kemeja santai warna hitam, rapih, rambutnya agak diacak sedikit tidak terkesan norak ,tapi wangi dan fresh. "Ayo ta .." Faro menggandeng tanganku dan kami berjalan masuk kedalam cafe.

"Ta, maaf ya kalo aku mulai obrolan malam ini dengan topik yang kurang sesuai."

"Ya Tuhan, ini beneran Faro apa bukan? Ganteng banget padahal kalo pakai seragam sekolah terlihat slengekan. " Aku membungkuk dan melihat kolong meja.

"Kenapa Ta? "

"emhh gak apa-apa ro. " Aku kembali duduk . Aku masih belum yakin cowok ganteng didepanku ini Faro meski barusan kulihat kakinya beneran menyentuh lantai. Kemudian aku pamit ke Toilet . "Mbk, Mbk lihat kan cowok yang di meja 12 itu? Ganteng gak? Mbk bisa lihat kan?" Tanyaku pada waiters cafe tersebut.

"Maksud mbk cowo berkemeja hitam itu? Iya mbk saya bisa lihat . Kenapa ya?" Jawab waiters cafe itu dengan wajah kebingungan.

"Ya udah mbk , makasih. " Ujarku lalu menghampiri Faro lagi.

"Eh Ta, lama banget aku kira pulang loh kamu tadi ." Sapanya agak terlihat mencemaskan aku.

"Tadi antri diToilet ro , hihii." Aku meringis tersipu karena sudah berfikir macam macam tentang Faro.

"Ehm, Ta.. Kemarin Tia menemuiku. Lalu , mengajakku balikan dengannya ."

"Trus? " Aku reflek memotong ucapannya yang belum selesai. Faro tersenyum. "Yaa aku tolak lah Ta karena aku udah pindah ke lain hati. "

"Jadi Faro mau cerita ini doang " Aku menggerutu dalam hati. "Bukan cerita ini kok Ta yang paling penting, "

"Loh kok Faro bisa baca pikiranku?" aku kembali bertanya dalam hati.

"Ta, Aku mau menitipkan hatiku pada orang yang tepat. Orang itu adalah kamu. " Faro menatapku penuh harap dan melanjutkan kata katanya ."Apa aku boleh menitipkan hatiku padamu Ta?"

Tik.tok .tik tokkk.

Denting jarum Jam klasik dikamarku terdengar sekali ketika malam hening . Aku melayangkan lamunanku pada Faro yang beberapa jam lalu kutemui dan menitipkan hatinya padaku. Aku melihat layar ponselku dan mengetik pesan singkat pada Faro lalu kuhapus lagi. Ini kali ketiga aku melakukannya. Aku sangat bingung. Lalu kutelepon Tia "Ya, apa kabar ? Lama sekali tidak kerumah? Marah ? "

"Hallo Ta, aku baik. Ahh tidak marah padamu Ta, aku cuma butuh waktu instropeksi diri" Suara Tia diseberang sana memang terdengar ceria . "Ya, Maaf ya. Aku terlanjur menyukai Faro. Maafkan aku. "

"Apa Ta ? Aku gak salah dengar? Kamu suka sama Faro ? " Tia bertanya sambil tertawa . "Akhirnya Tuhan, sahabatku yang satu ini kau buka juga pintu hatinya." katanya lagi meledekku. "Ahh Ya, bukannya kamu masih suka sama Faro. Kok sekarang tertawa. "

"kalopun aku mengajak Faro balikan hanya untuk pelarian semata Ta, Aku sekarang sudah punya lagi kok."

"Ya Tuhan, Jahat kali kamu ni ya. Oh ya, Faro menembakku tadi. Aku harus bagaimana ?"

"Ya terserah kamulah Ta, tanya sama hati kamu bukan aku. " tiba-tiba sambungan telepon terputus. Kutelepon lagi Tia tapi nomornya sudah tidak aktif .Kucerna lagi kata kata Tia tanya hati. Dan ya, aku mulai mengerti.

--------------

Tahun ke 4 setelah aku menerima Faro menitipkan hatinya padaku kemudian kami memutuskan untuk menikah.
Satu tahun setelah pernikahan , kami dianugerahi puteri cantik yang kami beri nama Allinda wicaksono.
Tia dan Asri menemukan jodohnya dipesta Ulang tahun suamiku. Mereka menikah dengan teman suamiku , Gigih dan Seno namanya. Sekarang kami bertiga berpisah karena mereka tinggal diluar kota bersama suami masing masing. Tapi komunikasi kami tetap terjaga begitupun dengan persahabatan kami.

SENJA..... Part 1

Tepat 08.30 wib air hujan mengguyur pacitan kota . Terlihat genangan air disepanjang jalan berlubang akibat muatan truk yang berlebih. Senja bergegas mengenakan jas hujan. Mengayuh sepeda menuju kampus, menepi diruko sesekali petir menggelegar. Dikayuhnya lagi si momo kawan setianya setiap ke kampus.

Entah sejak kapan hujan reda tapi Senja masih mengenakan jas hujannya sampai kampus. Bias pelangi indah disudut kota membuat Senja termangu. Kemudian bebenah memasuki ruang kelas.

"Segera angkat teleponku ,penting! " pesan singkat dari Dani. Hanya dibaca sekilas lalu Senja duduk .

" Senja, aku ingin bicara sebentar saja" pesan berikutnya diterima ketika Dosen sudah dikelas. Senja memasukan Handphone kedalam tas, memperhatikan mata kuliah yang disampaikan dosennya.

Usai mata kuliah hari ini, Senja memfokuskan pandangannya kearah perpustakaan . Gadis kutu buku ini kemudian masuk kedalam perpus.

"kutunggu dari tadi baru nyampek sekarang kau ni.." Sapa penjaga perpus yang terkenal dengan logat Animasi kartun upin ipin itu.

"Ah bapak bisa aja, kan tadi saya ada kelas pak." Jawab Senja sambil memilih buku yang ingin dibaca.

"Temui aku di kantin , sekarang." itu pesan singkat Dani yang kesekian yang tidak dibalas Senja.

"Baiklah, aku segera kesana." akhirnya Senja berkemas menemui Dani .

"Bruukkk !! "

"Maaf, aku buru-buru." Senja menabrak seseorang di koridor perpus.

"Bodoh.." ucap seseorang itu sambil nyengir meledek Senja. Karena buru-buru, Senja tidak meladeni laki-laki tinggi dengan earphone menggantung dilehernya.

Senja tersenyum dan meninggalkan Dani sendiri dikantin. Keputusannya berpisah dengan Dani sudah bulat semenjak orang ketiga hadir ditengah hubungan mereka dan Dani mengkhianati kesetiaan Senja

Gemercik hujan seakan menemani kesendirian Senja. Kakinya yang jenjang terus mengayuh Momo hingga pertigaan jalan menuju rumahnya. "istri macam apa kamu ini, suami pulang tidak disambut malah ngomel-ngomel .." Tidak asing lagi ketika Senja mengetuk pintu dan mengucap salam terdengar Ayah dan ibunya sedang adu mulut. Pikirannya yang menggelayut tentang Dani dan kini orangtuanya melayangkan gugatan cerai. "ayah dan ibu tidak usah susah berebut senja akan tinggal dengan ayah atau ibu. Mulai besok Senja akan pergi dari rumah ini. " Katanya dengan isak tangis didepan kedua orangtuanya.

"Senja, Sama saja kamu ini dengan ibumu, aneh. Kamu tinggal saja dengan ayah dirumah ini biar ibumu angkat kaki dari rumah ini ."

Pagi buta Senja berkemas tanpa sepengetahuan ayah dan ibunya. Membuka lalu menutup lirih pintu gerbang. Menuntun momo hingga jalan utama yang agak jauh dari rumahnya.

Terik matahari pagi mengiringi perjalanan Senja. Kemudian memaksa Senja istirahat sejenak .

"Mau kemana pagi-pagi begini ?" "Laki-laki itu kan yang menabrakku dikampus?" pikir Senja. Laki-laki itu menyodorinya soft drink. Sepertinya dia habis Jogging , terlihat dari pakaian dan handuk yang menggantung dilehernya.

"eh, kamu kan yang mengatai aku bodoh .." "kenapa kamu baik padaku , memberiku minuman segala. Jangan-jangan mau meracuniku. " Cetus Senja pada laki laki bertubuh tinggi semampai dan berkulit putih itu.

"Eh bodoh, dikasih minuman malah menuduh macam-macam. Aku cuma kasihan lihat kamu duduk ditrotoar bawa ransel ngapain juga coba?"

"Aku minggat dari rumah . Kesel juga punya ortu kerjaannya berantem trus " ... Senja diam sejenak, "Kenapa juga aku cerita sama cowok gak jelas ini. " pikirnya.

"Trus dengan kamu kabur ortu kamu gak bakal berantem lagi gitu? bodoh !"

Lagi -lagi dia menyebut Senja bodoh. Senja tidak menjawab hanya meneguk sebotol soft drink kemudian beranjak .

"Mau kemana, ?" Laki laki itu menahan pundak senja yang mau beranjak . "Ke kampus lah . Lepasin gak?"

"Oke, Sampai ketemu dikampus . Aku ega."

katanya lagi sambil mengulurkan tangan memperkenalkan namanya ke senja. "Senja Dian prawira . " Senja menjabat tangan laki-laki itu. Kemudian mereka pergi berlawanan arah.

"Dimana kamu,Senja ?. Ayah dan ibu cemas segera pulang . Kami berulangkali meneleponmu tapi tidak ada jawaban. "

Senja mengambil ponsel dari sakunya dan membaca pesan singkat dari ayahnya. Terlihat dilayar ponsel 5 missed call dari ayah dan ibunya. Senja duduk terpaku ditaman kampus memikirkan bagaimana nasibnya jika kedua orangtuanya bercerai. Bahkan gadis berkacamata ini meneteskan air mata kemudian mengusapnya dengan telapak tangannya segera.

"Nih," laki laki yang tadi memperkenalkan bahwa namanya adalah Ega lalu memberi tissu pada Senja

. "Kenapa kamu disini, pasti mengikutiku dari tadi. Atau kamu mau meledekku bodoh lagi ?"

" Iyalah bodoh, nangis kok dilap pake tangan . "

Ega tersenyum meledek Senja yang matanya masih berkaca-kaca. "Kamu pikir ini lucu ? dasar cowok aneh. "
"Senja, itu kan panggilanmu. sebagai permintaan maaf karena aku sering manggil kamu Bodoh jadi aku mau nemenin kamu disini silahkan curhat apapun itu biar kamu lega." Kata ega sambil mengulurkan jari kelingkingnya tanda permintaan maaf.

"Aku tidak menyukaimu, apalagi berfikir untuk menghabiskan waktu bersamamu . Permisi. " Senja semakin kesal dan meninggalkan Ega .

Monday, January 11, 2016

Sepenggal Kisah Masa Lalu

Kumulai darimana ceritaku ini. Terlalu panjang . Rumit.Kamu menjadikan sekelumit kisah kita mengendap dilubuk hati.Bukan siapa-siapa tapi pernah saling mengisi.Kamu tidak pernah menyatakan bahwa kita adalah pasangan.Tapi .. sikapmu. Sesekali kamu menelponku untuk datang kerumahmu. kita makan, kamu memintaku menyuapimu.Manja sekali bukan?!Kita Nobar film komedi waktu itu , kamu meledekku seperti tokoh dalam film itu dan kita tertawa . Ahh .. itu dulu.Sebelum Dia datang menuntunmu pergi dariku.oh ya, kamu pernah bilang kita akan terus sama-sama selagi Perasaan kita masih sama.Dan aku cukup tau diri ketika kamu berpaling itu artinya perasaan kita tak lagi sama . Tapi bukan perasaanku. Kamu !hhmmh.. Menghela nafasku ternyata lebih terasa lega daripada aku terus mengingatmu. Sesak.Kemudian mengubur dalam kenangan kita. semoga kelak sosok sepertimu tak kn kutemui lagi. Menyanjungku tinggi kemudian menghempaskn ku hingga hampir tak bisa bangkit dari keterpurukan.Munafik, terkadang kurasa. Saat bayangmusekelibat dimata. kutepis. kulakukan berulang kali hal seperti ini, Idiot kan ??!Kubiarkan perasaan berkecamukku dg sendirinya. Sampai pada akhirnya nanti aku berpaling dan menitipkan hati ku padaorang yg tepat. Jangan pernah kembali , kamu terlalu berani pergi meninggalkanku.

Sunday, January 10, 2016

34 Km

Sejuk semilir angin menembus tulang rusukku. Kusingkap anak rambut yang menutupi telinga Lani. Kuusap lembut . "Vin, vin..." Kudengar seseorang memanggilku dari luar pintu. "vin,maaf aku langsung masuk saja kupikir pintunya terbuka pasti kamu dirumah." Ternyata bulek yang memanggilku tadi. Belum sempat aku bertanya ada apa, "Bulek pinjam uangmu dulu vin, si ibnu butuh mau bayar spp les." katanya lagi sambil menatapku sayu. "Berapa bulek, vina cuma punya segini udah dibeliin susunya Lani kemarin." Kuperlihatkan uang 50ribuan satu dan 20 ribuan. "Haduh ndak cukup vin, butuhnya 120 ribu. Yaudah bulek cari pinjaman lain aja" kemudian bulek berlalu menutup pintu rumahku. Aku bekerja disebuah instansi lembaga pendidikan dikotaku. Lani adalah anakku satu-satunya. Suamiku tinggal dlluar kota sejak dimutasi karena ada proyek disana. Aku tinggal bersama orangtua dan anakku dikota pacitan. Tidak heran kalau bude dan tetanggaku sering datang kerumah dan meminjam uang, ibuku orang yang sangat baik bila memang ada uang tak segan membantu orang lain meski kadang uang itu tidak dikembalikan. Setiap hari aku bekerja untuk kebutuhan Lani yang masih berusia 2bulan.Suamiku terkadang pulang seminggu 2kali. Maklum perjalanan pacitan Surabaya cukup jauh jika ditempuh hanya dengan sepeda motor.Sedangkan aku melaju perjalanan 34km ku dari rumah sampai tempat kerja setiap hari kecuali hari libur aku menjaga Lani dirumah dengan ibu dan ayah.Ayahku sudah tidak bekerja semenjak Lani ada. Hari ini senin dan aku bersiap menuju kantor tiba-tiba telepon rumah berdering. "Kringgggg...." "Assalamualaikum, ini siapa ya ?" kudengar ibu mengangkat telepon diruang tengah. "oh ya.. ada. .. Oh gitu. Nanti saya sampaikan ya. " "iya walaikumsalam" Ibu menutup telepon dan menghampiriku. "siapa bu?" tanyaku sambil berkemas ke kantor "Argo itu vin , mau nebeng bareng kamu ." "Loh bu, trus ibu bilang iya gitu?" "iya vin, kasian katanya motornya lagi dibengkel." ibu berlalu dan menggendong Lani ke teras . Aku berfikir keras kenapa Argo selalu cari waktu untuk mengambil hati ibu. Argo adalah laki-laki yang dijodohkan ibu denganku tapi aku lebih memilih mas Rio ,suamiku. Hingga aku menikah dengan mas Rio ,ibu tetap saja melebih-lebihkan sosok Argo. "sayang , ibu berangkat kerja dulu ya." kukecup kening Lani yang menatapku dan tersenyum . Meskipun Lani masih bayi dan sering waktu aku tidak ada untuknya tapi aku tahu dia mengerti aku sangat menyayanginya . "hhmmmh" gumamku saat Argo tengah menyetopku dipertigaan jalan. "Vin, ibumu sudah bilang kan aku nebeng hari ini?" Katanya slengekan. "iya. Y udah naik " "Aku aja yang didepan kan aku cowok masa diboncengin cewek." Kita pindah posisi, Argo memboncengku. Hari itu berlalu begitu saja. Esoknya Mas Rio pulang ke Pacitan . Ada kebahagian tersendiri ketika mas Rio pulang , aku bisa menikmati secangkir kopi susu bersamanya di balkon kamar. "kalo mas ingat , kapan ya terakhir kita ngopi bareng seperti ini ?" "mungkin bulan lalu , yang pasti itu sudah lama sekali sayang ." tuturnya sambil tersenyum. "iya mas . oh ya tadi Argo berangkat kerja bareng aku mas, maaf mas aku baru bilang sekarang." Segera kuucap maaf pd suamiku, aku salah tidak izin pd suamiku ketika bertemu Argo. "Iya , itu bukan yang pertama kali kan Argo coba mendekati kamu ." Katanya lagi dengan menyentil hidungku. "Maaf mas, kalo bukan karna ibu meng-iyakan aku juga tidak mau." " iya sayang mas ngerti. Lani sudah tidur ya?" Mas Rio mengalihkan pembicaraan. Kemudian mas Rio menjemput Lani yang sudah tidur dikamar ibu . "Sayang , mas berangkat lagi ya ada meeting mendadak ." kulihat mas Rio sudah berpakaian rapi dan bersepatu. "kubuatkan kopi dulu mas , " Aku bangun dari kasur sambil menggendong Lani. "Ndak usah sayang, biar nanti mas beli disana selesai meeting." Mas Rio mengecup keningku dan Lani dan langsung pergi . Buat aku dan Lani , mas Rio adalah sosok suami sekaligus ayah yang sangat sayang dan bertanggung jawab meski bukan ayah siaga ketika Lani membutuhkan kasih sayangnya. "Vin, Rio nanti pulang kesini ya? " ibu menepuk pundakku pelan dari belakang. "tidak bu," "Lani, cucu kakung . Gendong kakung ya lihat kucing ..." ayahku keluar dari kamar menuju kami yang sedang berdiri didepan pintu ruang tamu . "oh ya, tadi Argo telepon ibu.." " kenapa bu? nebeng lagi . " aku memotong pembicaraan ibu. "bukan, katanya nanti mau mampir sini . Kamu diajak bareng . Katanya untuk rasa terimakasih karna kamu sudah mau ditebengi kemarin." "Hmmmmh. Lani sayang ibu mandi dulu ya." Aku berlalu meninggalkan ibu. 07.00 ... Ketika aku keluar dari kamar dan berkemas ke kantor si Argo sudah diruang tamu menggendong Lani. "Hai vin, sudah siap ?" sapa Argo . "maaf go, aku bisa berangkat sendiri ." Kukecup Lani , berpamitan dengan ayah dan ibu kemudian kustarter motor matic ku. Entahlah mungkin Argo merasa diabaikan , dia mengendarai mobilnya tepat dibelakangku . Kuperhatikan di spion dia memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Kupikir Argo akan menabrakku dari belakang jadi aku berjalan agak kepinggir. Tiba-tiba Argo menge-rem mobilnya tepat didepan motorku... "Vin, Nitip ini buat Lani dan ibumu. Tadi aku lupa .." "Apa ini ?" Kubolak balik sebuah box yang berukuran medium dibalut kertas kado itu. "udah kasih aja nanti, Terimakasih ya." "Terimakasih untuk apa?" Argo pergi kearah selatan 34 km persis dengan arah kantorku karena kantornya juga bersebelahan dengan kantorku. Kupacu lagi motor maticku sekitar 30 menit . Kemudian kuparkir motor dan ... "Vin, itu ada apa ? Banyak orang di seberang jalan ?" Alfi rekan kerjaku menunjuk kearah jalan dimana bergerumunan orang. "Aku nggak tau fii, coba kesana yuk." Aku dan Alfi berjalan menyeberangi zebracross menuju gemurunan orang tadi dan menyeruak diantara orang-orang panik itu. Kuingat lagi Argo yang mengemudi mobilnya dengan kecepatan tinggi, Mobil sedan Hitam dengan plat nomor yang sama kini didepanku dengan bumper yang penyok, keping kaca dimana-mana .Tapi aku tidak melihat Argo . "Dimana dia, lalu untuk apa dia memberiku box medium tadi?" aku berdiam diri . Tiba - tiba saja aku sudah berada di Kantor. Kutanya Alfi , "sejak kapan kita disini?" "Loh , kan tadi setelah melihat kecelakaan di seberang jalan , kita balik lagi kesini vin. Aku panggil-panggil kamu diem aja ya udah aku tarik aja tanganmu dan kita disini deh." panjang lebar Alfi menjelaskan kejadian tadi. Lalu,aku teringat dengan box medium berbalut kertas kado tadi dan aku segera membukanya. Ternyata didalam box tadi ada sebuah Buku dongeng untuk anak-anak dan selembar kertas bertuliskan "bu indah terimakasih telah memberi jalan untuk saya menyayangi Vina dan Lani. Saya sadar saya tidak berhak atas mereka, Rio lah yang bisa membahagiakan Vina dan Lani. Mulai hari ini saya akan berhenti mengejar Vina. "