Sunday, January 10, 2016

34 Km

Sejuk semilir angin menembus tulang rusukku. Kusingkap anak rambut yang menutupi telinga Lani. Kuusap lembut . "Vin, vin..." Kudengar seseorang memanggilku dari luar pintu. "vin,maaf aku langsung masuk saja kupikir pintunya terbuka pasti kamu dirumah." Ternyata bulek yang memanggilku tadi. Belum sempat aku bertanya ada apa, "Bulek pinjam uangmu dulu vin, si ibnu butuh mau bayar spp les." katanya lagi sambil menatapku sayu. "Berapa bulek, vina cuma punya segini udah dibeliin susunya Lani kemarin." Kuperlihatkan uang 50ribuan satu dan 20 ribuan. "Haduh ndak cukup vin, butuhnya 120 ribu. Yaudah bulek cari pinjaman lain aja" kemudian bulek berlalu menutup pintu rumahku. Aku bekerja disebuah instansi lembaga pendidikan dikotaku. Lani adalah anakku satu-satunya. Suamiku tinggal dlluar kota sejak dimutasi karena ada proyek disana. Aku tinggal bersama orangtua dan anakku dikota pacitan. Tidak heran kalau bude dan tetanggaku sering datang kerumah dan meminjam uang, ibuku orang yang sangat baik bila memang ada uang tak segan membantu orang lain meski kadang uang itu tidak dikembalikan. Setiap hari aku bekerja untuk kebutuhan Lani yang masih berusia 2bulan.Suamiku terkadang pulang seminggu 2kali. Maklum perjalanan pacitan Surabaya cukup jauh jika ditempuh hanya dengan sepeda motor.Sedangkan aku melaju perjalanan 34km ku dari rumah sampai tempat kerja setiap hari kecuali hari libur aku menjaga Lani dirumah dengan ibu dan ayah.Ayahku sudah tidak bekerja semenjak Lani ada. Hari ini senin dan aku bersiap menuju kantor tiba-tiba telepon rumah berdering. "Kringgggg...." "Assalamualaikum, ini siapa ya ?" kudengar ibu mengangkat telepon diruang tengah. "oh ya.. ada. .. Oh gitu. Nanti saya sampaikan ya. " "iya walaikumsalam" Ibu menutup telepon dan menghampiriku. "siapa bu?" tanyaku sambil berkemas ke kantor "Argo itu vin , mau nebeng bareng kamu ." "Loh bu, trus ibu bilang iya gitu?" "iya vin, kasian katanya motornya lagi dibengkel." ibu berlalu dan menggendong Lani ke teras . Aku berfikir keras kenapa Argo selalu cari waktu untuk mengambil hati ibu. Argo adalah laki-laki yang dijodohkan ibu denganku tapi aku lebih memilih mas Rio ,suamiku. Hingga aku menikah dengan mas Rio ,ibu tetap saja melebih-lebihkan sosok Argo. "sayang , ibu berangkat kerja dulu ya." kukecup kening Lani yang menatapku dan tersenyum . Meskipun Lani masih bayi dan sering waktu aku tidak ada untuknya tapi aku tahu dia mengerti aku sangat menyayanginya . "hhmmmh" gumamku saat Argo tengah menyetopku dipertigaan jalan. "Vin, ibumu sudah bilang kan aku nebeng hari ini?" Katanya slengekan. "iya. Y udah naik " "Aku aja yang didepan kan aku cowok masa diboncengin cewek." Kita pindah posisi, Argo memboncengku. Hari itu berlalu begitu saja. Esoknya Mas Rio pulang ke Pacitan . Ada kebahagian tersendiri ketika mas Rio pulang , aku bisa menikmati secangkir kopi susu bersamanya di balkon kamar. "kalo mas ingat , kapan ya terakhir kita ngopi bareng seperti ini ?" "mungkin bulan lalu , yang pasti itu sudah lama sekali sayang ." tuturnya sambil tersenyum. "iya mas . oh ya tadi Argo berangkat kerja bareng aku mas, maaf mas aku baru bilang sekarang." Segera kuucap maaf pd suamiku, aku salah tidak izin pd suamiku ketika bertemu Argo. "Iya , itu bukan yang pertama kali kan Argo coba mendekati kamu ." Katanya lagi dengan menyentil hidungku. "Maaf mas, kalo bukan karna ibu meng-iyakan aku juga tidak mau." " iya sayang mas ngerti. Lani sudah tidur ya?" Mas Rio mengalihkan pembicaraan. Kemudian mas Rio menjemput Lani yang sudah tidur dikamar ibu . "Sayang , mas berangkat lagi ya ada meeting mendadak ." kulihat mas Rio sudah berpakaian rapi dan bersepatu. "kubuatkan kopi dulu mas , " Aku bangun dari kasur sambil menggendong Lani. "Ndak usah sayang, biar nanti mas beli disana selesai meeting." Mas Rio mengecup keningku dan Lani dan langsung pergi . Buat aku dan Lani , mas Rio adalah sosok suami sekaligus ayah yang sangat sayang dan bertanggung jawab meski bukan ayah siaga ketika Lani membutuhkan kasih sayangnya. "Vin, Rio nanti pulang kesini ya? " ibu menepuk pundakku pelan dari belakang. "tidak bu," "Lani, cucu kakung . Gendong kakung ya lihat kucing ..." ayahku keluar dari kamar menuju kami yang sedang berdiri didepan pintu ruang tamu . "oh ya, tadi Argo telepon ibu.." " kenapa bu? nebeng lagi . " aku memotong pembicaraan ibu. "bukan, katanya nanti mau mampir sini . Kamu diajak bareng . Katanya untuk rasa terimakasih karna kamu sudah mau ditebengi kemarin." "Hmmmmh. Lani sayang ibu mandi dulu ya." Aku berlalu meninggalkan ibu. 07.00 ... Ketika aku keluar dari kamar dan berkemas ke kantor si Argo sudah diruang tamu menggendong Lani. "Hai vin, sudah siap ?" sapa Argo . "maaf go, aku bisa berangkat sendiri ." Kukecup Lani , berpamitan dengan ayah dan ibu kemudian kustarter motor matic ku. Entahlah mungkin Argo merasa diabaikan , dia mengendarai mobilnya tepat dibelakangku . Kuperhatikan di spion dia memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Kupikir Argo akan menabrakku dari belakang jadi aku berjalan agak kepinggir. Tiba-tiba Argo menge-rem mobilnya tepat didepan motorku... "Vin, Nitip ini buat Lani dan ibumu. Tadi aku lupa .." "Apa ini ?" Kubolak balik sebuah box yang berukuran medium dibalut kertas kado itu. "udah kasih aja nanti, Terimakasih ya." "Terimakasih untuk apa?" Argo pergi kearah selatan 34 km persis dengan arah kantorku karena kantornya juga bersebelahan dengan kantorku. Kupacu lagi motor maticku sekitar 30 menit . Kemudian kuparkir motor dan ... "Vin, itu ada apa ? Banyak orang di seberang jalan ?" Alfi rekan kerjaku menunjuk kearah jalan dimana bergerumunan orang. "Aku nggak tau fii, coba kesana yuk." Aku dan Alfi berjalan menyeberangi zebracross menuju gemurunan orang tadi dan menyeruak diantara orang-orang panik itu. Kuingat lagi Argo yang mengemudi mobilnya dengan kecepatan tinggi, Mobil sedan Hitam dengan plat nomor yang sama kini didepanku dengan bumper yang penyok, keping kaca dimana-mana .Tapi aku tidak melihat Argo . "Dimana dia, lalu untuk apa dia memberiku box medium tadi?" aku berdiam diri . Tiba - tiba saja aku sudah berada di Kantor. Kutanya Alfi , "sejak kapan kita disini?" "Loh , kan tadi setelah melihat kecelakaan di seberang jalan , kita balik lagi kesini vin. Aku panggil-panggil kamu diem aja ya udah aku tarik aja tanganmu dan kita disini deh." panjang lebar Alfi menjelaskan kejadian tadi. Lalu,aku teringat dengan box medium berbalut kertas kado tadi dan aku segera membukanya. Ternyata didalam box tadi ada sebuah Buku dongeng untuk anak-anak dan selembar kertas bertuliskan "bu indah terimakasih telah memberi jalan untuk saya menyayangi Vina dan Lani. Saya sadar saya tidak berhak atas mereka, Rio lah yang bisa membahagiakan Vina dan Lani. Mulai hari ini saya akan berhenti mengejar Vina. "

No comments:

Post a Comment

Terimakasih telah mengunjungi blog saya. Jangan lupa kembali. Tinggalkan alamat blog anda :)